Cina & Bisnis

Tadi pagi saya olah raga, jalan di sekitar rumah. Tak jauh dari rumah saya ada pekerjaan proyek pengembangan kawasan. Tanah-tanah yang tadinya berbukit sedang diratakan, entah mau dibangun apa. Di depan mata saya saja entah berapa puluh hektar luasnya. Kalau dihitung luas wilayah yang dikuasai pengembang kawasan perumahan saya secara keseluruhan ada mungkin ribuan hektar. Pemiliknya, Sinar Mas, yang dikuasai Eka Tjipta Wijaya, orang Indonesia keturunan Cina.

Enak benar pemilik perusahaan ini. Mereka diberi HGB oleh pemerintah, sebagian kecil saja membebaskan tanah dari masyarakat, lalu mengembangkannya, dan kemudian mendapat laba entah berapa triliun.

Tapi kemudian saya berpikir ulang. Kalau saya misalnya punya HGB 100 hektar, saya mungkin akan bingung itu mau dipakai buat apa. Pekerjaan yang sedang saya saksikan, yaitu mengurug lahan, itu saja ada ilmunya. Salah kerja, sekian milyar bisa terbuang di situ.

Siangnya kami makan di restoran. Pemiliknya Cina juga. Pulangnya istri saya komentar,”Enak benar yang punya. Yang kerja mati-matian orang pribumi, dia tinggal terima hasil.”

Saya teringat pikiran saya tadi pagi. “Nggak seenak itulah. Nggak gampang membangun bisnis restoran. Kalau kita diserahi restoran sebesar ini belum tentu kita bisa mempertahankannya untuk tetap laku dan untung.”

Ya, seperti bisnis developer, tidak gampang berbisnis restoran. Kita perlu tahu bagaimana menyiapkan menu yang disukai orang. Juga perlu tahu bagaimana mendidik karyawan agar bisaa melayani tamu dengan baik. Kalau tidak, restoran bakal sepi pengunjung. Masih banyak lagi know how dibalik itu.

Tidak gampang berbisnis itu. Kalau gampang, semua orang jadi pebisnis, kan? Sekadar hal sederhana, buka toko misalnya, tidak semua orang bisa. Banyak orang bisa beli ruko, tapi tidak sanggup menjadikannya toko. Banyak yang buka toko, tapi akhirnya tutup.

Tidak semua Cina sanggup berbisnis. Banyak yang akhirnya jadi karyawan seperti saya. Tidak sedikit pula yang jadi tukang.

Pikiran sepintas kita sering membisiki kita untuk cemburu pada orang yang lebih berhasil. Tapi kita enggan melalui proses di belakang pemandangan yang kita lihat. Rumus sederhananya, orang sukses, orang kaya, bisa dipastikan ada kerja keras yang panjang di belakangnya. Kalau ingin seperti mereka, kerjalah seperti mereka. Kalau tidak sanggup, jalani dan nikmati saja hidup kita sendiri.

catatan Kang Hasan

 

Yuuk Langganan Video Kami. GRATIS! KLIK DISINI!!

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 331 pengikut lainnya

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.