Benarkah Kapasitas Otak Kita Terbatas?

Orang sering bilang, kapasitas otak manusia itu terbatas. Berapa batasnya? Itu dia masalahnya. Kita tidak tahu persis. Yang kita bisa hitung hanya taksiran kasarnya saja. Begini hitungannya.

Otak manusia terdiri dari sekitar 1 milyar neuron. Setiap neuron membentuk sekitar 1000 sambungan, sehingga ada sekitar 1 triliun sambungan dalam otak kita. Kalau setiap neuron memuat satu data maka kapasitas otak kita hanya beberapa gigabyte, setara dengan USB. Untungnya neuron-neuron ini saling berkombinasi, sehingga setiap neuron bisa menyimpan beberapa data sekaligus. Karena ini kapasitas penyimpanan otak kita menjadi sangat besar. Hitungan kasarnya adalah 2,5 petabyte (1 petabyte = 1 juta gigabyte).

Seberapa besar itu? Itu cukup untuk merekam siaran TV selama 300 tahun.

Itupun belum tuntas. Itu baru kemampuan menyimpan. Kita belum mengukur kapasitas berpikir otak kita. Bila dikombinasikan dengan proses berpikir, maka kapasitasnya bisa meningkat lagi, dan peningkatannya bisa eksponensial.

Ringkasnya, kita tidak tahu berapa kapasitas otak kita. Mungkin ada batasnya di siuatu titik, tapi kita tidak tahu di mana. Artinya, sebenarnya masalahnya bukan keterbatasan kapasitas otak, tapi keterbatasan pengetahuan manusia.

Apa yang membatasinya? Kemalasan berpikir dan keengganan mencari tahu. Orang yang paling terbatas pengetahuannya adalah orang yang merasa dia terbatas. Maka dia tidak mau berpikir, mencari tahu, menggali informasi. Ia menyerah, menyatakan dirinya terbatas.

Sebenarnya tidak ada arti penting dari pernyataan bahwa otak manusia itu terbatas. Itu hanya pernyataan orang yang frustrasi terhadap pengetahuan yang dimiliki oleh orang lain, yang ia tidak punya. Pengetahuan orang lain itu mengguncang sendi-sendi fundamental pada iman orang tersebut. Sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri, ia mengeluarkan ungkapan itu.

Dia sebenarnya mau bilang,”Kamu tahu banyak, tapi pengetahuanmu tak seberapa dibanding pengetahuan Tuhanku.” Ibarat anak kecil yang kalah berkelahi, lalu mencoba menghibur diri dengan berkata,”Awas, nanti aku laporin sama ayahku, biar kamu dipukul sama ayahku.”

Itu sama dengan pernyataan tuduhan bahwa ilmuwan itu sombong dengan pengetahuan mereka. Padahal itu tidak benar. Kalau Dawkins, kemuliaan sains justru terletak pada kesadaran bahwa ada begitu banyak hal yang kita belum ketahui. Itu menjadi tantangan untuk mencari tahu. Jadi, ilmuwan tidak pernah merasa dirinya sudah tahu semua hal.

Hanya saja para ilmuwan tidak segan membuka hal-hal yang selama ini disentuh pun tidak berani. Ketika kitab suci mengatakan bahwa manusia diciptakan dari tanah, ilmuwan membangun teori lain, bahwa manusia terbentuk melalui proses evolusi. Tentu saja teori itu disusun berdasar bukti-bukti, dan yang lebih penting, terus diperbarui bukti-buktinya.

Ketika orang-orang percaya bahwa bencana itu terjadi karena kemarahan Tuhan, ilmuwan membuka kenyataan bahwa itu hanyalah peristiwa alam biasa.

Hal-hal itu yang mengguncangkan banyak orang, sehingga ia mengeluarkan pernyataan defensif tadi.

catatan Kang Hasan

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 364 pengikut lainnya

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.