Pemimpin Perempuan dan Islam Indonesia

Salah satu bahasan di buku “Islam untuk Indonesia” adalah tentang Islam di Indonesia, yang punya karakter khas, yang sulit kita temukan di tempat asalnya, yaitu Arab. Salah satu karakter khas itu adalah tentang peran perempuan.

Perempuan Nusantara biasa bekerja, bahu membahu dengan laki-laki. Mereka bekerja di ladang, sungai, laut, dan pasar. Kita punya budaya patriarki, tapi itu tidak secara total bisa menghalangi perempuan untuk berperan.

Masih ada banyak diskriminasi terhadap perempuan, misalnya dalam hal mendapat akses ke pendidikan. Tapi di tengah berbagai keterbatasan dan pembatasan itu, perempuan Indonesia terus maju. Mereka bisa berperan di tengah masyarakat, menempati berbagai posisi. Nyaris tak ada posisi dan peran yang tak bisa ditempati perempuan.

Kenapa saya sebut ini khas Indonesia? Bayangkan, di Saudi perempuan baru saja boleh menyetir. Selama ini tidak boleh. Kita akan sulit menemukan emak-emak naik kendaraan, membawa barang, lalu berjualan di suatu tempat, seperti yang biasa kita temukan di sini.

Apakah perempuan memang sama sekali tidak berperan di sana? Sebenarnya tidak juga. Saat berhaji saya sempat menyaksikan acara TV, menampilkan seorang dokter perempuan, kepala divisi penanganan penyakit menular di sebuah rumah sakit besar. Penyiar TV juga ada yang perempuan. Tapi arus utamanya, peran perempuan sangat dibatasi.

Ada usaha untuk menjadikan Indonesia ini seperti Arab itu. Perempuan mau “dikembalikan ke rumah”, disuruh mengurus rumah saja. Tapi usaha itu terlalu kecil ketika berhadapan dengan kekuatan emak-emak Indonesia yang sudah dibangun sejak berabad-abad yang lalu.

Kini 2 pemimpin utama Jawa Timur, provinsi yang merupakan basis kaum santri, adalah perempuan. Itu hanya bisa terwujud di Indonesia, tegak di bawah prinsip Islam Indonesia.

catatan Kang Hasan

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 332 pengikut lainnya

Iklan

1 Comment

  1. bu khofifah dan bu risma sama2 tops! btw kalau soal budaya patriarkhi di saudi, itu gak cuma sebab budaya asyarakatnya tapi dikuatkan juga oleh peraturan pemerintah. males bingit.

    Suka

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.