Pemimpin Abad VII dan Pemimpin Abad XXI

Pemimpin abad VII jelas beda tugas dan fungsi dengan pemimpin adab XXI. Proses pemilihannya elitis. Hanya orang-orang tertentu, yang dianggap terpandang karena keturunan bagsawan, orang kaya, atau cendekiawan, yang punya hak untuk ikut memilih. Rakyat biasa, tidak ikut memilih. Yang tidak boleh dilupakan, perempuan juga tidak ikut memilih. Tentu saja perempuan juga tidak boleh dipilih sebagai pemimpin.

Pemimpin adalah penguasa tertinggi, yang kekuasaannya nyaris absolut. Ia tidak punya masa jabatan. Artinya, ia berkuasa sampai mati. Sukses atau gagal, tidak ada mekanisme untuk memberhentikannya di tengah jalan. Satu-satunya jalan untuk menghentikannya adalah dengan membunuhnya.

Ia juga adalah panglima perang. Ia sendiri yang memimpin angkatan bersenjata, bahkan ikut berperang langsung, dalam misi mempertahankan diri atau misi ofensif.

Pemimpin sekaligus merupakan pemimpin agama. Ia berhak mengeluarkan ketentuan-ketentuan hukum agama.

Pemimpin daerah tidak dipilih, tapi ditunjuk langsung oleh pemimpin pusat. Pemimpin daerah punya wewenang untuk membentuk pasukan tempur sendiri, juga melakukan aksi militer secara independen. Karena itu mungkin saja terjadi, pemimpin daerah melakukan pemberontakan terhadap pemimpin pusat.

Di abad XXI pemimpin dipilih dengan melibatkan semua orang. Perempuan punya hak pilih, dan juga bisa dipilih menjadi pemimpin. Wewenangnya diatur oleh undang-undang dan seperangkat aturan lain. Masa jabatannya juga dibatasi.

Di pusat, kepala negara adalah pemimpin tertinggi angkatan perang. Tapi teknis pertahanan merupakan wewenang penuh panglima angkatan bersenjata. Pada level tertentu kepala negara tidak diperbolehkan melakukan intervensi.

Pemimpin negara bukan merupakan pemimpin agama. Ia tidak berwenang mencampuri soal agama. Urusan agama diserahkan kepada pemimpin agama. Pemerintah hanya memberi fasilitas sebagai bentuk pelayanan.

Pemimpin daerah dipilih. Ia tidak punya wewenang mengatur tentara. Ia tidak boleh membentuk angkatan perang.

Jelas kan? Kita hidup di zaman yang berbeda, dengan aturan-aturan yang berbeda. Namun ada sebagian orang yang menganggap abad XXI ini masih perlu diatur dengan aturan abad VII. Atau, sebenarnya mereka hanya memilih sejumlah aturan abad VII untuk diterapkan sesuai kepentingan mereka sendiri.

catatan Kang Hasan

Yuuk Langganan Video Kami. GRATIS! KLIK DISINI!!

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 345 pengikut lainnya

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.