Syariah vs Teknologi?

Saya membaca tulisan yang dibagikan teman saya di FB. Ini tulisan seorang akhi yang mengecam para ukhti bercadar, tapi justru sibuk memamerkan foto dan video mereka di media sosial seperti Instagram dan Tik Tok. Menurut si akhi ini tingkah seperti itu tidak sesuai dengan amanat syariat. Syariat tidak hanya menyuruh perempuan menutup aurat, tapi juga menjaga sikap terhadap lawan jenis. Jangan sampai ada interaksi yang bisa menimbulkan birahi. Ini yang biasa disebut fitnah.

Perempuan-perempuan yang tadinya tidak berhijab, tidak memakai cadar, kemudian memakainya, sering disebut sudah hijrah. Hijrah artinya pindah. Dalam hal ini mereka dianggap pindah wilayah, dari wilayah tidak kaffah ke wilayah kaffah. Memakai cadar dianggap sebagai wujud pelaksanaan syariat Islam secara total atau kaffah. Sekali lagi, yang dimaksud kaffah bukan hanya soal berpakaian, tapi juga soal sikap-sikap dalam berinteraksi dengan lawan jenis.

Bagaimana seharusnya? Perempuan dan laki-laki yang bukan mahram tidak dibenarkan berinteraksi dalam bentuk apapun. Mereka tidak boleh berikhtilat, yaitu bercampur dalam satu majelis. Majelis laki-laki harus terpisah dari majelis perempuan. Karena itu dalam pesta-pesta, misalnya pesta pernikahan, hadirin dipisah antara laki-laki dan perempuan. Demikian pula dalam majelis kajian.

Perempuan yang bercadar tapi mengabaikan tata krama itu oleh si akhi tadi disebut berhijrah palsu. Ia hijrah,menuju ke kehidupan Islam kaffah, tapi hanya dalam wujud bungkusnya saja, yaitu pakaian. Sedangkan isinya, yaitu tingkah laku, tidak berubah.

Kejadian ini bagi saya menarik dari beberapa sisi. Ini soal bagaimana Islam kaffah, yang dalam wujud fisik tampak seperti pelaksanaan tata cara hidup abad VII hendak dipertahankan dalam lingkungan abad XXI. Ini juga soal orang-orang yang sebagian dari dirinya ingin tetap mempertahankan nilai-nilai yang dibangun di abad VII tadi, tapi sebagian yang lain ingin menikmati kehidupan di abad XXI.

Beberapa bulan lalu saya menyaksikan sebuah video unik, menayangkan seorang perempuan bercadar sedang duduk di restoran Italia di Dubai, dan mencoba makan pasta. Ia menyendok pasta, dan dengan susah payah membawa sendok berisi pasta itu menuju mulutnya, melewati cadar yang menutupi mulut itu.

Keunikan itu terjadi karena adanya incompatibility atau ketidakcocokan. Normalnya, perempuan bercadar tidak makan di tempat umum seperti restoran Italia, di mana laki-laki dan perempuan bercampur. Bila tidak bercampur, perempuan itu bisa melepas cadarnya, lalu makan dengan leluasa. Di tempat di mana ia seharusnya berada, kerumitan tadi tidak perlu terjadi.

Kejadian itu mirip dengan foto yang beberapa hari lalu viral, seorang perempuan bercadar sedang berendam di kolam renang. Saya sebut berendam, karena dengan pakaian lebar yang menutupi seluruh tubuhnya mustahil dia bisa berenang.

Ada banyak hal incompatible seperti itu bisa kita saksikan dalam berbagai sisi kehidupan. Misalnya, perempuan berjilbab ikut olimpiade. Iran pernah mencoba seragam berjilbab untuk atlet sepak bolanya. Hasilnha adalah incompatibility yang seperti yang diomelkan si akhi tadi. Dalam dunia kaffah, bertanding olah raga, apalagi ditonton banyak orang bukanlah hal yang patut dilakukan perempuan. Seperti tim sepak bola Iran tadi, saat bertanding banyak terjadi tersibaknya pakaian si pemain, yang menyebabkan terbukanya aurat dia, dan itu disaksikan banyak orang.

Demikian pula halnya dengan polisi wanita yang berjilbab. Sebag polisi pakaiannya harus kemas, membuat ia mudah bergerak. Itu artinya pakaiannya agak ketat, tidak bisa longgar sesuai syar’i. Mereka juga memakai celana panjang seperti laki-laki, yang menurut para ulama tidak boleh. Tapi mereka tetap ingin menutup aurat. Maka kita lihat polisi wanita memakai jilbab, tapi maaf, buah dadanya menonjol. Padahal secara syar’i hijab itu harus menyembunyikan buah dada jangan sampai tampak menonjol.

Incompatibility terletak pada polisi dan wanita. Dalam sistem kaffah, pekerjaan sebagai polisi bukanlah dunia perempuan. Ini dunia laki-laki. Segala kerumitan soal seragam polisi wanita tadi akan hilang bila segala sesuatu didudukkan pada tempat yang sepatutnya.

Kenapa hal-hal itu terjadi? Karena manusia, dalam hal ini perempuan, punya pikiran, juga punya kehendak. Itu adalah dorongan internal mereka. Senang melihat laki-laki tampan itu adalah dorongan alami. Sedangkan menjaga atau menahan diri terhadap laki-laki itu adalah sesuatu yang ditekankan secara eksternal.

Dalam masyarakat tradisional tekanan eksternal itu bekerja sangat kuat. Perempuan “dikurung” dalam tembok fisik berupa dinding rumah, dan tembok sosial, berupa pengawasan orang-orang sekitarnya. Teknologi membuat tembok-tembok itu bisa dilompati dengan mudah. Perempuan tidak harus keluar rumah untuk bisa berinteraksi dengan laki-laki. Maka terjadilah hal-hal yang diomelkan si akhi tadi.

Di sisi lain, nilai-nilai juga mengalami gempuran dari sisi lain. Arus utama kebudayaan dunia menempatkan perempuan sebagai sosok yang bebas. Mereka bisa jadi apa saja dan melakukan apa saja. Jadi polisi, tentara, petinju, pemain sepak bola, hingga atlet renang yang pakaiannya hanya menutupi sebagian kecil tubuhnya.

Nilai arus utama itu sedikit banyak mengubah nilai yang dianut kaum muslimah. Banyak muslimah ingin jadi polisi atau atlet. Atau sekadar nongkrong di cafe menikmati makanan lezat. Tapi di sisi lain, nilai lama mengekang mereka. Mereka harus berjilbab dan berhijab. Maka terjadilah kompromi.

Hasil kompromi bisa bagus, bisa pula aneh, tergantung cara kita memandangnya. Perempuan becadar berendam di kolam renang umum adalah hal aneh dari sudut pandang arus utama maupun syariat Islam. Polisi wanita adalah kompromi yang bagus bagi yang menganggap bahwa berhijab itu sekadar menutupi kulit tubuh agar tidak terlihat. Bagi yang kukuh dengan syariat kaffah, itu adalah kompromi yang aneh.

Suka atau tidak, cara hidup modern yang diperkenalkan melalui produk-produk teknologi, menggerus banyak nilai-nilai syariat, dan mengubah sosok kaum muslim. Mereka mencoba melawannya, atau beradaptasi. Tapi usaha itu banyak menghasilkan kekonyolan.

catatan Kang Hasan

Yuuk Langganan Video Kami. GRATIS! KLIK DISINI!!

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 332 pengikut lainnya

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.