Teroris dan Counter Surveillance

Diakui atau tidak, tragedi di Rumah Tahanan dalam kompleks Markas Komando Brimob menimbulkan tanya tanya besar di benak masyarakat Indonesia. Banyak rekan yang bertanya kepada saya, apa yang sesungguhnya terjadi? Mengapa mereka bisa dengan mudah merebut senjata, menyandera dan membunuh penyidik yang tengah memeriksa mereka?

Benarkah ini soal tahanan yang minta makan tidak dikasih, atau tahanan yang minta air wudhu tidak dikasih lalu marah dan memberontak?

Tidak, saudaraku. Persoalannya tidak sesederhana itu. Dari sudut pandang saya, pemberontakan kemarin adalah pemberontakan yang direncanakan dengan matang dan hati-hati.

Darimana akar pendapat saya di atas? Ingat, mereka bukan orang biasa, bukan sekedar maling ayam atau copet pasar Senen. Mereka adalah orang-orang sipil berkemampuan militer. Mereka belajar, berlatih dan menerapkan ilmu kemiliteran; termasuk olah senjata, surveillance dan counter surveillance.

Surveillance? Jangan naiflah. Mereka punya jaringan diluar, yang melakukan pemetaan dan pengamatan dengan seksama untuk melihat titik-titik rawan di perimeter Mako Brimob. Itulah jawaban paling nalar, mengapa begitu pemberontakan dan penyanderaan terjadi, pasukan Brimob langsung stelling di luar Mako dan membuat perimeter penyangga sejauh 500 meter dari perimeter pembatas kompleks markas mereka. Sebagai buffer pengaman, untuk mengantisipasi serangan dari luar dalam waktu bersamaan dengan penyanderaan tersebut.

Counter surveillance? Ya, itu pasti mereka lakukan. Memprofile penjaga mereka, mengamati jam-jam pergantian jaga, mengamati titik-titik lemah dalam rangkaian kegiatan kepolisian yang terkait dengan mereka. Juga mengamati struktur bangunan dimana mereka ditahan dan apa kelemahannya, dimana senjata api dan bahan peledak sitaan disimpan sebagai barang bukti yang akan ditunjukkan penyidik kepada mereka saat pemeriksaan.Setelah yakin, dengan hati-hati mereka akan menyusun rencana aksi berikut aktor dan peran yang harus dilakukan oleh orang per orang.

Itulah sebabnya saya katakan, tudingan tentang kecerobohan dalam menerapkan SOP adalah tudingan yang menyederhanakan masalah. SOP hanya bagian kecil dari luasnya permasalahan yang memicu terjadinya penyanderaan kemarin.

Bagi saya jelas. Sudah saatnya pemerintah lebih serius menangani masalah ini. Perlu dibangun fasilitas rumah tahanan dengan standar maximum security untuk menahan para tersangka tindak pidana terorisme yang tengah diperiksa dan disidik. Dengan desain bangunan yang meminimalisir kemungkinan terjadinya pemberontakan dan penyanderaan. Selain itu, juga memperbaharui SOP pemeriksaan dan SOP Pengamanan saat penyidik melaksanakan tugasnya.

Lima anggota Polri gugur, itu adalah harga yang sangat mahal yang musti dibayar bangsa ini untuk sebuah perbaikan ke depan. Jadi tak ada alasan lagi bagi pemerintahan Jokowi untuk mengabaikannya.

catatan Haryoko R. Wirjosoetomo

HELP OUR YOUTUBE CHANNEL GROW

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 289 pengikut lainnya

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.