Anak Nakal Tumbuh dari Orang Tua yang tak Mendidik

Orang mengeluh,”Anak-anak makin parah kenakalannya.” Lalu membuat kesimpulan, pendidikan agama kurang. Apa yang terjadi? Misalnya, geng motor. Anak-anak remaja naik sepeda motor beramai-ramai, lalu melakukan tindakan kekerasan, bahkan pembunuhan. Mengerikan, bukan?

Apa yang sebenarnya terjadi? Masalah pertama ada di tangan orang tua tolol yang memberi anaknya sepeda motor. Sepeda motor bukan mainan anak-anak. Ia hanya diberikan untuk orang yang sudah cukup usia, bisa punya SIM. Ingat, itu batas minimalnya. Tidak berarti kalau sudah berusia cukup, otomatis boleh diberikan.

Setiap yang kita berikan pada anak punya efek. Hitunglah efeknya sebelum memberikan. Tidak hanya itu, kontrol juga efeknya. Efek sepeda motor, pertama, membahayakan keselamatan, kalau pengendaranya tidak punya cukup pengetahuan dan keterampilan berkendara. Anak-anak di bawah umur jelas sangat berbahaya bila diberi sepeda motor.

Efek lain adalah efek sosialnya. Ia bisa pergi jauh ke mana ia suka. Bisa berkumpul, membentuk kelompok tak terkendali. Terbentuklah geng motor. Atau, ia dipaksa untuk bergabung, dipaksa melakukan hal-hal yang tidak ia suka.

Anak-anak remaja berhubungan seks. Kenapa anak-anak tumbuh remaja tanpa pengetahuan memadai tentang seks? Kenapa mereka sampai begitu penasaran dengan hubungan seks sampai sangat ingin melakukannya? Kenapa mereka sampai punya kesempatan dan tempat melakukan hubungan seks? Coba hitung, ada berapa kelalaian orang tua di situ?

Anak-anak berfoto tidak patut, lalu menyebarkannya di media sosial. Mereka juga berkomentar tidak patut. Mengapa anak-anak diberi gadget? Mengapa mereka dibolehkan membuka akun media sosial, padahal setiap media sosial sudah menetapkan batas umur untuk penggunanya? Mengapa orang tua tidak tahu apa yang dimuat anak-anaknya di media sosial?

Orang tua mengeluhkan anak-anak zaman sekarang. Sebenarnya lebih tepat mengeluhkan orang tua zaman sekarang. Yaitu orang tua yang mengira anak-anaknya akan jadi anak baik tanpa mereka mendidiknya. Maaf, ini jenis orang tua yang hanya bisa senggama.

Lalu apa hubungannya dengan pendidikan agama? Apakah pendidikan agama mengajarkan bahwa naik sepeda motor tanpa SIM itu haram? Kalau iya, alhamdulillah. Tapi saya tidak pernah mendengar hal semacam itu disampaikan di pelajaran agama atau di pengajian. Dengan atau tanpa pendidikan agama, kita harus sampaikan bahwa naik sepeda motor tanpa SIM, tanpa helm, berboncengan lebih, itu tidak baik.

Dengan atau tanpa ajaran agama kita bisa sampaikan pada anak-anak untuk berkata baik dan sopan, begitu juga dalam bertindak. Kita sebagai orang tua tidak boleh berhenti menegur, memperbaiki, dan yang paling penting: memberi contoh.

Jangan mengeluh soal anak-anak zaman sekarang. Anak-anak seharusnya lebih pantas mengeluh, karena punya orang tua yang tak mendidik.

catatan Kang Hasan

HELP OUR YOUTUBE CHANNEL GROW

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 255 pengikut lainnya

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.