Kualitas Dosen Indonesia

Dulu, tahun 2005, saya masih jadi dosen. Suatu hari saya ditugaskan ikut pelatihan e-learning. Pas acara, yaoloooo, salah satu materinya adalah cara menggunakan Google. Saya ngamuklah, jauh-jauh datang lalu diajari cara memakai Google. Eh, ternyata memang masih banyak peserta yang gagap dalam hal cara memamakai internet.

Dua tahun yang lalu, saya diminta mengevaluasi hasil riset dosen. Setelah menjabarkan metode pemgukuran, dia menjelaskan bahwa ada pengukurannya yang gagal, tidak selesai, karena kehabisan sampel. Eeee, di bagian analisa, dia lakukan analisa terhadap hasil pengukuran yang tidak selesai tadi, dengan menebak-nebak, mungkin begini mungkin begitu. Ini lulusan S2,lho.

Di sebuah seminar research grant, seorang dosen menampilkan grafik photoluminescence. Saya tanya, itu hasil transisi apa? Dia jawab, saya nggak tahu. Lha, kalau kamu nggak tahu kenapa kamu ukur, kenapa kamu tampilkan dalam presentasi? Itu diukur untuk menyatakan apa? Dia celingukan.

Itu sekelumit cerita tentang dosen Indonesia. Saya ingat di masa saya kuliah di Jepang, kalau ada yang presentasi model begitu, bakal kena lempar spidol sama sensei.

Intinya, kualitas kebanyakan dosen kita itu jongkok banget. Makanya ndak heran kalau jumlah publikasi ilmiah kita sangat minim. Sudah minim jumlah, kualitasnya juga jongkok.

3600 guru besar ternyata tidak pernah publikasi. Itu guru besar, lho. Kalau yang bukan guru besar dimasukkan, angkanya akan membengkak mungkin 3 kali lipat. Alasan klisenya, tidak ada dana. Lha, kalau jenis yang tadi itu, mau ditimbun pakai uang 3 truk juga nggak bakal bisa publikasi.

Nah, dosen dengan kelas begini sebaiknya jangan mengeluh kalau digaji rendah. Jangan ngomel kalau dosen asing digaji tinggi.

Tentu saja ada dosen-dosen yang bagus, berprestasi sebagaimana layaknya dosen-dosen di luar negeri. Mereka produktif mempublikasikan karya ilmiah di jurnal bermutu. Mereka bahkan rutin diundang mempresentasikam riset di berbagai seminar dan konferensi di luar negeri.

Para dosen berkualitas ini juga dibayar murah oleh pemerintah. Dosen dinilai dengan cara yang sangat administratif, hampir sama dengan PNS lain. Yang berprestasi kelas internasional nyaris tidak dibedakan dengan dosen abal-abal.

Dalam situasi itu, kok pemerintah mau mengundang dosen asing, dan mau dibayar mahal. Aduh, mas Ali Ghufran, apa yang salah pad dirimu? Terkooptasi oleh Nasir?

catatan Kang Hasan

 

HELP OUR YOUTUBE CHANNEL GROW

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 289 pengikut lainnya

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.