Pejuang Kristiani di Lasykar Hizboellah

Namanya Yotham Marchasan. Dia seorang kristiani yang baik, pemberani dan mencintai tanah airnya sepenuh jiwa. Begitu cintanya hingga dia tak peduli dengan orang-orang beragama apa dia akan memilih berjuang.

“Dia ibarat seekor macan yang menakutkan buat tentara Inggris dan tentara Belanda, “ujar R.Makmur (89), salah seorang eks petarung Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI) yang masih tersisa.

Setahun saya menelusuri nama ini ke Gunung Halu. Karena di wilayah penganut Kristen terbesar di Cianjur ini, Yotham (nama yg diambil dari seorang gagah di Alkitab), lahir pada 1913. Pada usia 36, Yotham mengorganisir para pemuda Gunung Halu untuk berontak kepada Inggris dan Belanda. Uniknya, ia menjadikan pasukannya bagian dari lasykar Hizboellah, sebuah milisi Islam.

Kompi yang dipimpin Yotham dikenal sangat pemberani namun cerdas dalam berstrategi, hingga menimbulkan kerugian besar di kubu musuh. Tak aneh jika kemudian, ia lantas menjadi buruan militer Belanda, namun selalu lolos.

Namun sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya terjatuh jua. Karena ulah salah satu saudaranya di Gunung Halu, militer Belanda akhirnya dapat meringkusnya. ” Saking kesalnya akan pengkhianatan itu, Abah sampai bilang bahwa orang itu adalah “Anjing Belanda”, kenang Misnetty Marchasan, salah satu putri dari Yotham.

Di penjara Cianjur, sebagai pejuang gerakan pembebasan, ia diperlakukan sangat buruk: dihina, dipukuli dan disiksa secara mental.Begitu buruknya perlakuan militer Belanda hingga suatu hari ia tak tahan lagi dan nyaris mati.

Dalam kondisi tak sadarkan diri dan berdarah darah, ia dilemparkan ke selnya. Tak ada yang berani menolongnya, kecuali seorang haji pemberontak bernama Ali. “Untuk mnegupayakan Abah tetap sadar, Abah bilang Haji Ali sampai mengencingi wajah Abah,” ujar Misnetty.

Yotham memang tipikal pejuang tangguh. Hingga keluar dari penjara, ia tetap saja memilih jalur non kompromi terhadap Belanda. Dia memang pecinta Indonesia hingga akhir hayatnya.

“Pada usia senjanya, setiap 17 Agustus, ia selalu merayakannya secara khusus di rumah bersama anak-anak dan para cucunya. Ia akan marah dan sedih jika ada dari kami yang lupa akan merayakan hari kemerdekaa tersebut,”ungkap Lusi, salah seorang cucu Yotham.

Yotham Marchasan adalah salah satu petarung yg kisahnya saya tulis di buku terbaru saya yang baru beredar: Orang Orang di Garis Depan. (hendijo)

catatan Hendi Jo

Keterangan foto: Yotham Marchasan bersama sang istri pada akhir tahun 1970-an. (sumber: keluarga besar Yotham Marchasan)

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 364 pengikut lainnya

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.