Terharu dengan kegigihan Prabowo…

Prabowo, mulai mencoba bangkit dari keterpurukannya setelah dipecat dari militer, jadi pesakitan dengan tuduhan dalang penculikan, dianggap penghianat oleh keluarga istrinya yang berujung perceraian, dan seabreg masalah lain yang membuat dia terpaksa keluar dari Indonesia dan hidup di Yordania.

Perjalanan hidup memang betul-betul aneh. Dari seorang anak begawan ekonomi sukses, menantu presiden, rising star-nya AD, berubah drastis dan harus kehilangan hampir semuanya. Siapa pun yang mengalaminya pasti akan mengalami depresi.

Di tahun-tahun menjelang pilpres, Prabowo pulang ke Indonesia. Mencoba peruntungan dengan mencalonkan diri sebagai “bakal calon presiden” dari Partai Golkar. Dan dia kalah.

Kekalahan tersebut membuat dia keluar dari partai dan membangun partainya sendiri, GERINDRA. Di pilpres berikutnya dia kembali mencalonkan diri. Kali ini sebagai calon wakil presiden, berduet dengan Megawati. Dan dia kalah untuk kedua-kalinya.

Pilpres 2014 merupakan peluang terbesar Prabowo untuk terpilih. Selama 5 tahun dia terus-menerus mengiklankan diri di televisi. Peluang terpilih begitu besar karena nyaris tidak ada satu pesaing pun yang bisa dibandingkan dengan dia dari generasi seangkatannya. Saya sendiri waktu itu berpikir bahwa Prabowo pasti jadi presiden.

Tapi takdir berkata lain. Tiba-tiba muncul seorang tukang meubel dari Solo, Jokowi. Dia berhasil mengalahkan pak kumis dalam pemilihan gubernur DKI. Lalu dengan gagahnya -meskipun badannya cungkring- dia menantang Prabowo di pilpres. Hasilnya, Prabowo kembali menjadi pecundang.

Kalah 3 kali berturut-turut dalam pilpres setelah semua yang dia miliki dan dia banggakan lenyap tentunya bukan sesuatu yang mudah ditanggung manusia. Kalau manusia normal, mungkin dia sudah gila akibat tekanan berat yang menimpa dirinya. Tapi luar-biasanya Prabowo tetap tegar. Kalo cuma merusak HP masih wajarlah.

Kalau dia sekarang percaya ramalan – dari sebuah buku fiksi, bukan dari dukun atau cenayang – saya kira itu amat sangat wajar. Karena hidupnya pun, yang begitu pahit dan getir sejak 1999 tak ubahnya seperti sebuah fiksi.

Sekarang Prabowo bersekutu dengan Amien Rais, orang yang mengalami kekecewaan yang tidak jauh berbeda dalam hidupnya. Dan semua kekecewaan ini harus diarahkan pada Jokowi, si tukang meubel kurus dari Solo yang dengan nekatnya duduk di kursi yang sangat diinginkan mereka berdua, kursi RI-1.

catatan Husaini Yusuf

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 310 pengikut lainnya

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.