Homoseks: Orientasi vs Kejahatan Seksual

Masih banyak orang tidak paham perbedaan antara orientasi seksual dan kejahatan seksual. Kalau ada orang homoseks yang melakukan kejahatan seksual, langsung dituduh bahwa itu kerusakan yang ditimbulkan oleh homoseksualitas. Misalnya kalau ada pencabulan atau pelecehan seksual oleh seorang homoseks, langsung dipukul rata bahwa kaum homoseks itu sama dengan pelaku kejahatan seksual.

Homoseks itu orientasi seksual. Orang-orang pada umumnya punya orientasi heteroseksual. Laki-laki menyukai perempuan, dan sebaliknya. Sedangkan homoseks menyukai sesama jenis, laki-laki menyukai sesamanya, demikian pula perempuan. Definisi orientasi seksual berhenti sampai di situ.

Homoseksual tidak selalu melakukan senggama. Sama seperti kaum heteroseksual, yang ada juga yang tidak bersenggama. Ada juga homoseksual yang tetap melakukan senggama secara hetero. Ada banyak orang homoseksual yang diam-diam, menyembunyikan orientasi seksualnya, menikah sebagaimana orang lain.

Ringkasnya, orientasi seksual tidak selalu paralel dengan perilaku seksual. Dalam arti, homoseksual tidak otomatis pelaku senggama dengan sesama jenis. Sebaliknya, pelaku senggama sesama jenis tidak selalu seorang homoseks. Seseorang hetero yang melacurkan diri mau saja bersenggama dengan sesama jenis, asal dibayar.

Nah, pelecehan seksual, pencabulan, itu adalah kejahatan seksual. Kejahatan seksual bisa dilakukan oleh orang dengan orientasi hetero maupun homo. Kenyataannya, kejadian kejahatan seksual oleh hetero sebenarnya jauh lebih banyak, karena populasinya yang lebih banyak.

Jadi, kalau misalnya ada oom-oom homo yang pegang-pegang pengunjung laki-laki di kolam renang, itu adalah kejahatan seksual yang bukan monopoli perilaku homoseks. Oom-oom hetero juga melakukam kejahatan serupa terhadap pengunjung perempuan.

Lebih parah lagi, orang tidak bisa membedakan antara homoseks dan pedofilia. Ketika homoseks memangsa korban, yang disalahkan orang homoseks. Padahal pedofilia dari kalangan hetero juga ada, dan banyak. Mereka malah lebih beruntung, karena bisa menikmati status pedofil dengan menikahi anak di bawah umur secara resmi.

Kalau saya tulis seperti ini ada saja yang protes. “Kok getol amat membela kaum homoseksual. Kalau kejahatan kaum homoseksual diungkap, langsung dibela, “ tuduhnya. Eee, gentong peang! Bukan begitu.

Yang memang kejahatan, perlakukan sebagai kejahatan. Hukum penjahatnya. Tidak perlu dibela. Tapi jangan lakukan penyesatan. Kaum heteroseksual tidak perlu menanggung akibat kejahatan yang dilakukan oleh seorang heteroseks. Demikian juga kaum homoseksual tidak perlu memikul beban kejahatan yang dilakukan oleh seorang homoseks.

Hal begini sebenarnya sederhana bagi yang mau berpikir. Tapi dalam soal homoseksual ini banyak yang enggan berpikir. Itu masalahnya.

catatan Kang Hasan

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 345 pengikut lainnya

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.