Mengapa Banyak yg Percaya dengan HOAX Telur Palsu?

Saya nonton video hoax, seorang pakai jubah coklat topi putih, mendemonstrasikan “telur palsu” kepada emak-emak di pasar. Perasaan saya campur aduk antara pengen nuthuki kepala berpeci itu, dengan gregetan melihat ibu-ibu kok mau aja dibohongi.

Orang berjubah coklat itu dengan yakin membuka cangkang telur dan menyatakan itu telur palsu. Pembungkusnya kertas, katanya. Dari mana ia tahu itu kertas? Tidak tahu. Dia yakin saja, dan keyakinan itu meyakinkan orang. Demikian pula isinya, begitu ia keluarkan langsung ia bilang, tuh palsu. Orang-orang percaya.

Ada satu lagi video yang diklaim sebagai vodeo proses pembuatan telur palsu. Videonya berjalan cepat dari segmen ke segmen, diklaim sebagai urutan proses di tempat yang sama, padahal bukan. Satu segmen menunjukkan proses pembuatan putih dan kuning telur. Satu segmen lagi, telur dalam proses di sebuah mesin.

Waktu melihat segmen kedua, saya langsung nyengir. Itu sama sekali bukam proses membuat telur, tapi justru terbalik. Itu adalah proses memecahkan telur, kemudian memisahkan putih dan kuningnya. Dalam industri makanan proses itu dikerjakan dengan mesin.

Tapi bagaimana dengan segmen pertama tadi? Ya, tampaknya itu memang kegiatan membuat telur palsu. Nah, tuh, benar kan? Iya, orang memang biasa membuat telur palsu, tapi bukan untuk dipasarkan sebagai barang konsumsi. Itu untuk keperluan display. Kalau Anda ke Jepang, Anda akan lihat di depan restoran dipajang model berbagai jenis makanan yang dijual. Semacam menu 3D. Bentuknya mirip banget dengan aslinya.

Banyak orang mudah percaya, tidak punya sikap kritis dan skeptis. Kenapa bisa begitu? Sebabnya banyak. Pertama, tidak punya pengetahuan dan pengalaman. Kalau seseorang menyebut “ini silikon”, yang mendengar umumnya tidak pernah melihat silokon beneran, juga tidak tahu apa itu silikon. Jadi, cenderungnya percaya saja.

Kedua, banyak orang yang dalam kesehariannya dibiasakan dengan sikap “percaya”. Ketika mendengar kajian di sebuah pengajian, misalnya, sebagian besar pendengar duduk dengan sikap pasrah, bahwa yang ia dengarkan itu adalah kebenaran. Ia tidak tahu, tidak paham, dan tidak percaya diri. Duduk diam dengarkan, jangan membantah. Kalau berpikir dan membantah, bisa dianggap ingkar.

Ketiga, tidak terbiasa eksplorasi. Pekerjaan di dapur adalah pekerjaan rutin. Ibu-ibu itu mungkin sudah berurusan dengan puluhan ribu telur selama hidupnya. Tapi mereka tidak mengamati dan merekam fakta-fakta tentang telur. Ketika ada orang bilang ini itu tentang telur, ia tidak bisa memastikam kebenarannya.

Keempat, psikologi kelompok. Orang yang berada dalam kelompok cenderung ikut pada kelompok, tidak lagi menjadi entitas individu. Melawan sikap kelompok memerlukan energi besar, jarang orang mau melakukannya. Jadi, kebanyakan orang akan cenderung manut.

Nah, bagaimana dengan orang yang menjelaskan tadi? Ini jenis orang yang biasa yakin dengan kata-katanya sendiri. Pokoknya yakin aja. Dia tidak merasa perlu mengecek informasi yang ia produksi dalam otaknya. Pokoknya yakin aja. Ia merasa itu semacam intuisi, firasat, dan ia yakin itu benar.

Klop, kan? Orang yang yakin pada karangan pikirannya, bertemu dengan orang-orang yang malas berpikir.

catatan Kang Hasan

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 360 pengikut lainnya

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.