Pak Joko Widodo dan Keluarga dari dulu tetap Sederhana

Saya asli Kota Solo. Dari TK sampai SMA di Kota Solo. Saya tahu Pak Jokowi sejak jadi Walikota Solo. Bahkan, saya masih ingat brosur beliau maju ke pentas politik pertama kali, dan saya punya semacam hutang budi juga ke beliau.

Saya mungkin tidak akan bisa masuk UGM kalau beliau tidak terpilih jadi Walikota Solo. Sebab, salah satu gebrakan beliau semasa jadi Walikota Solo adalah melindungi kami dari oknum-oknum pengurus sekolah yang dzalim, beliau itu galak pada pihak sekolah. Ya. Galak. Memang pembawaannya saja yang lucu dan gampang ketawa, tapi kalau beliau sudah bilang A, ya berarti A.

Dulu sebagian orang Kota Solo yang seperti sebagian politisi nasional saat ini. Meremehkan. Halah Jokowi ki opo… Halah Jokowi mung abang-abang lambe… Maklum tampang Jokowi memang tidak sangar. Tapi, dulu betulan lho, di awal-awal kebijakannya melindungi warga Solo, cukup banyak sekolah yang tetap “nakal”. Menarik pungli ke orangtua siswa. Jokowi datang atau menelepon langsung.

Saya sendiri kurang tahu lobinya seperti apa, tapi yang jelas sekelas Kepala Sekolah yang “nakal” pun jadi takut.

Satu lagi, terserah mau dibantah, saya juga tidak peduli kok. Yang penting kan manfaatnya sudah saya dapat dulu. Sistem online masuk sekolah itu salah satu pionirnya Kota Solo. Jauuuh sebelum menasional. Di saat banyak daerah berusaha mati-matian menunda sistem online, supaya masih bisa main sogok-sogokan saat masuk sekolah favorit, Kota Solo langsung menerapkannya.

Dan Jokowi hampir tiap hari ngomong di Solopos akan selalu mengawalnya.

Itulah sebab saya bilang, mungkin jika Pak Joko Widodo tidak jadi Walikota Solo, mungkin saya tidak bisa masuk UGM. Tidak munafik, bisa lancar masuk sekolah di SMA favorit dan selesai dengan predikat Lulusan Berprestasi itu jelas lebih membuka jalan.

Oke. Kita tidak usah jauh-jauh membandingkan dengan anak Presiden SBY. Terlalu jauh. Di UGM saya kenal cukup banyak anak pejabat biasa. Baru pejabat daerah, baru sekelas DPRD, dan selevel lainnya. Tidak ada satupun yang mau jualan martabak. Maksud saya adalah tidak ada satupun yang mau merintis usaha dari kecil-kecilan. Maunya langsung diangkat jadi apa di BUMD atau BUMN mana gitu. Maunya langsung diangkat jadi kepala bank cabang dimana gitu.

Coba yang haters kelas berat itu keponakannya Presiden SBY saat masih menjabat? Yakin mau jualan di pinggir jalan? Si Gibran itu ANAK PRESIDEN SEBUAH NEGARA lho. Saya ultimate tidak yakin kalau mereka misalnya adalah anak kandung anggota DPR biasa sekalipun masih mau jadi youtuber seperti Kaesang.

catatan Doni Febriando

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 310 pengikut lainnya

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.