Tentang Najwa Shihab yg dibully Penis (Pendukung Anies)

Gue pernah belasan tahun jadi reporter. Bertanya, mencari informasi, dan mengolah informasi adalah kerjaan gue. Tapi gak kebayang saat ini, kalo reporter bertanya dibilang bego. Meluruskan pertanyaan agar kembali ke pokok persoalan, dibilang lancang. Mengingatkan jawaban yg salah, dibilang kurang ajar. Dan reporter sekelas Najwa Shihab pun abis dibully dan dicaci maki pendukung narasumber.

“Dia itu mau nanya apa mau ngetes? Dasar iblis.” Ini pertama kali gue denger reporter dimaki sadis seperti itu.

Pemaki Najwa mungkin gak paham kalo reporter bertanya ke narasumber, bukan seperti guru bertanya ke murid. Guru bertanya utk menguji apa si murid masih ingat dgn pelajaran yg pernah diajarkan sebelumnya. Reporter bertanya utk mendapatkan informasi yg benar dr mereka yg ahli atau pada pemilik kebijakan, agar publik jadi tahu dan mengerti.

Misalnya, mau tahu sisik melik ibu kota dr A sampai Z, ya tanya sama gubernurnya. Kalo pejabatnya baru kerja selama 100 hari, ya tanyalah seputar mau dibawa ke mana ibu kota yg dipimpinnya lima tahun ke depan. Dan si narasumber harus tahu, bukan berlagak tahu, apalagi sok tahu, trus ngomongnya muter² gak jelas. Khas jawaban pejabat yg biasanya gak jujur.

“Tapi Najwa ini kalo bertanya kesannya sok tahu dan sok pintar? Jangan bela²in deh.”

Itu bukan kesan. Reporter memang harus banyak tahu dan harus pintar. Makanya sebelum wawancara reporter bisa jungkir balik mengumpulkan dan mempelajari berbagai data dan fakta sebanyak²nya dan selengkap²nya sebagai referensi utk dikonfimasi bila diperlukan. Bukan utk menyerang apalagi buat bikin malu.

Dosen gue yg sdh guru besar cerita pernah gak mau melanjutkan wawancara setelah tahu si pewawancara bukan cuma gak mempersiapkan data apa², tp juga gak tahu apa². Jawaban semua pertanyaannya bisa dijawab sendiri lewat buku (sekarang plus internet)

Menteri Soebroto (yg ahli perminyakan dunia) di jaman Soeharto gak mau meladeni wartawan yg menurutnya cuma sok tahu padahal gak ngerti persoalan. “Kamu belajar lagilah. Nanti kalo sudah paham baru wawancara saya,” katanya sambil ngeloyor pergi.

Guru besar ilmu politik Miriam Budiardjo cerita sama gue, setelah berkali² kecewa akhirnya dia gak mau lagi diwawancarai media kalo bukan sama pemimpin redaksinya langsung. Apa dia belagu? Bukan. Tapi krn reporter yg dikirim medianya sering yg gak berkualitas. Cemen.

Buat para narasumber pinter, biasanya gak mau wawancara kayak ujian esai. Gue bikin pertanyaan, elu tinggal bikin jawaban. Kalo itu sih gak usah ketemu orangnya. Kirim aja pertanyaan via email. Nanti akan dikirim balik jabawannya. Tapi kalo ketemu langsung ya harus ada semacam dialog. Saling mengisi. Kayak orang berdiskusi dgn sahabat. Harus jujur dan saling mau mengakui ketidaktahuan. Wawancara jadi berkualitas.

“Ah, Najwa itu jelas gak berkualitas, bahkan gak tahu diri. Masak orang lagi ngomong selalu dipotong seenaknya? Belajar lagi tuh sama Karni Ilyas.” Maki seorang emak² yg kayaknya cinta mati sama narasumber.

Denger ya, Mak. Di jaman media cetak masih berjaya dan tivi cuman ada satu²nya, pejabat bego dan gak bisa menjelaskan kerjaannya, banyak Mak. Dia boleh ngomong sesuka²nya. Nanti omongannya yg norak dan gak mutu tinggal diedit atau disunting. Ada yg ditambah atau dibuang biar jadi bagus, enak dibaca, dan gampang dimengerti pembaca. Malem naik cetak. Besok pagi terbit deh.

Pembaca yg gak kenal narasumber, setelah baca laporan si reporter pasti mengira nih pejabat pinter amat yak. Cuma si reporter yg tahu itu pejabat aslinya pekok. Ngomong blentang blentong. Susunan kalimat kacau. Di tanya A eh semua abjad disebutin, dan pada bagian akhir malah gak ada jawaban A.

Gimana kalo pejabat pekok kayak jaman old begitu di jaman now ditampilkan di secara live? Inilah cikal bakal malapetaka. Dia pasti akan terlihat sebagaimana adanya. Real. Kebodohannya gak bisa diedit. Untuk menjaga durasi dan menyelamatkan mukanya, jalan satu2nya jawaban yg melenceng harus dipotong kompas, diluruskan, diarahkan kembali ke substansi walau terpaksa lewat arteri.

Penyelaan yg dibumbui senyum manis itu bukan lancang atau kurang ajar, tp bentuk editan langsung. Dan editan itu memang akan jadi menyakitkan kalau narasumbernya ngeyel dan gak mau mengakui kesalahan dan kekurangannya. Dan tontonan yg mestinya bisa jadi hiburan pun berubah jadi pertarungan. Jadi kayak nonton beladiri full contact. Tinggal nunggu siapa yg bakal terkapar KO.

Gue memang salah pernah bilang acara ini bakal turun ratingnya kalo menampilkan si dia. Ternyata ratingnya tinggi dan jadi trending topik. Sayang bukan rating atau trending yg positif, tapi negatif. Negatif buat Najwa yg akhirnya habis dibully dan dimaki² pendukung narasumbernya, tanpa ada yg membela.

Tapi ini pelajaran berharga buat Najwa. Lain kali jangan pernah lagi menampilkan narasumber yg gak kredibel, apalagi punya banyak pendukung atau follower fanatiknya yg gampang singitan. Siapa pun dia, seberapa pun tinggi jabatannya. Gak ada gunanya.

“Ini bukan acara Mata Najwa namanya, tapi Mata Iblis.” Dan makian yg gue baca makin gila dan cacat nalar. Iblis kembali dibawa².

Buat gue, kalo suatu saat ketemu iblis bermata bagus dan indah kayak gitu. Gue bakal rela deh nyerahin diri gue kayak Isabella Swan ketemu Edward Cullen dalam “Twilight”. Gigit leher gue Najwa… ayo gigit…

catatan Ramadhan Syukur

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 330 pengikut lainnya

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.