Mengklaim Moral Islam

Mungkin Anda sering mendengar orang bilang “Jepang itu islami”, atau, “orang Jepang menerapkan tuntunan moral Islam”, atau semacam itu. Itu diucapkan oleh orang-orang Islam. Konteksnya memang sebagai otokritik terhadap orang-orang Islam sendiri. Orang-orang Islam, hidup di negeri-negeri muslim, ternyata hidup jauh dari nilai-nilai yang dituntunkan oleh Islam. Sementara itu, orang-orang Jepang yang bukan muslim, justru sudah menjalankannya.

Apa yang dimaksud lebih Islami? Maksudnya lebih bersih, tertib, aman, jujur, ramah, manusiawi, dan sebagainya. Itu hal-hal yang ironisnya sulit ditemukan di negeri-negeri muslim. Jepang memiliki semua itu.

Di satu sisi, memotivasi diri itu baik saja. Tapi patutkah dengan mengklaim sesuatu yang merupakan milik orang lain?

Mengatakan bahwa “Jepang itu islami” itu sama artinya dengan mengklaim bahwa orang-orang Jepang itu menjalankan standar moral Islam. Padahal tidak. mereka punya sistem moral sendiri. Sistem moral Jepang itu unik. Mereka tidak menghubungkan perbuatan baik dan buruk dengan Tuhan, dalam konteks balasan siksa bagi yang melakukan keburukan, dan imbalan surga bagi yang melakukan kebaikan. Sistem moralnya berbasis pada konsep “haji”, yang artinya malu. Malu kalau berbuat tidak pantas.

Mengklaim seperti itu seolah menafikan keberadaan sistem nilai mereka. Seolah hanya sistem Islam yang eksis dan unggul. Konyolnya, itu dilakukan pada saat, ironisnya, sistem yang diklaim unggul itu tidak eksis di alam nyata.

Kenapa orang bisa mengklaim bahwa tertib, bersih, dan sebagainya itu adalah nilai Islam? Benar, bahwa Islam mengajarkan orang untuk bersih. Tapi secara praktis, apa standarnya? Apakah kalau kita ikuti standar itu akan kita dapatkan kebersihan seperti Jepang?

Coba perhatikan bagaimana standar kebersihan menurut Islam. Misalnya, bagaimana membersihkan kencing. Sesuai tuntunan hadis, air kencing dibersihkan dengan cara menyiraminya, cukup sekali siram. Apakah cara itu akan menghasilkan kategori bersih dalam standar modern? Menurut saya tidak.

Tentu saja yang saya tulis di atas adalah standar minimal. Kita tidak dilarang untuk meningkatkan standar itu. Tapi masalahnya, adakah standar itu? Sejauh yang saya tahu tidak ada. Jadi, bagaimana kita bisa mengklaim sesuatu yang bahkan tidak ada dalam sistem Islam?

Demikian pula soal lain seperti tertib. Bagaimana standar Islam untuk ketertiban? Setahu saya yang ada hanyalah ketentuan-ketentuan yang mengacu pada keadaan abad VII. Yang mengacu pada abad XXI belum ada.

Maaf, kita seharusnya jujur mengakui bahwa dalam hal-hal itu, orang-orang Islam justru menjalankan standar yang dirumuskan oleh orang-orang dari luar dunia Islam. Artinya, dalam realitas abad XXI, orang-orang dari luar Islam justru sudah menjalankan sistem moral yang lebih baik, dan kita belajar pada mereka.

Apakah saya mengatakan bahwa Islam itu ketinggalan zaman? Itu tergantung bagaimana kita mendefinisikan Islam itu. Kalau Anda menetapkan bahwa Islam itu harus mengacu pada kondisi abad VII, sudah bisa dipastikan bahwa Islam yang Anda anut itu ketinggalan zaman. Tapi kalau Anda menganut Islam yang dinamis, yang selalu dikembangkan dengan ijtihad, menyesuaikan dengan kebutuhan zaman, maka Islam tidak ketinggalan zaman.

Masalahnya, ijtihad yang demikian itu minim. Minim dalam level pemikiran, dan lebih minim lagi bila dilihat dalam level implementasi. Apa boleh buat, kita harus berani dengan jujur mengakui bahwa kita memang tertinggal.

Konyolnya, orang-orang tertinggal ini tetap merasa lebih tinggi, lalu mengklaim milik orang lain sebagai milik mereka.

catatan Kang Hasan

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 223 pengikut lainnya

Iklan

1 Comment

  1. Ikut berkomentar boleh?

    Saya tidak mau ikut campur terlalu banyak. Misalnya mengenai orang jepang lebih islami alam konteks yg anda jelaskan. Ya mungin ada orang islam yg mengaku/mengkalim seperti itu.

    Yg ingin saya soroti disini pembahasan anda soal syarat batas minimal membersihkan kencing sesuai hadist.

    Dari cara anda memaparkan, saya yakin anda tidak mendengar.mengetahui tuntunan itu langsung dr kitab hadist atau para ahli hadis.

    Knapa? Sebab, anda memaparkan cara membershkan air kencing hanya sekali siram sebagai batas minimal secara global.

    Padahal, ilmu hadiat tidak seperti itu. Dalam islam sesuai ilmu hadist, memang ada air kencing yg boleh haya di siram satu kali siram. Tapi itu hanya berlaku untuk air kencing seorang bayi laki laki, yg baru berusia 0-2 tahun. Dan itu dgn syarat bayi itu belum pernah memaka atau meminum sesuatu selain ASI (Air Susu Ibu).

    Dan meskipun bayi itu belum berusia 2 tahun, tapi sudah makan atau minum selain ASI, maka cara membersihkan air kencing itu sama dengan cata membersihkan air kencing orang dewasa.

    Dimana jika merujuk pada ilmu hadis, cara menghilangkan kotoran.najis kencing orang dewasa maupun air kencing apa saja. “Selain ai kencing anjing dan babi” (Sebab air kencing anjing dan babi punya cara sendiri yg lebih spesifik.

    Cara menghilangkan air kencing pada umumnya adalah harus hilang zatnya juga baunya, dan hal lain yg menunjukan bahwa najis itu harus benar benar tudak ada.

    Itu standar dalam islam.

    Jika anda ingin tau tentang sesuatu cari tau dari sumbernya. Jangan hanya berasarkan katanya.

    Suka

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s