Riset Ilmiah Kencing Unta

Ada beberapa orang yang memberi saya informasi tentang riset terhadap khasiat kencing unta. Betul, ada beberapa publikasi riset tentang itu. Perisetnya adalah orang-orang dari universitas di Saudi. Ada satu paper yang saya lihat dari sebuah universitas di Eithopia.

Ilmiahkah risetnya? Kita bisa nilai.

Hasil riset dimuat di jurnal dengan impact factor rendah. Salah satu yang saya lihat sekilas dimuat di Journal of Etnopharmacology. Dari namanya kita bisa pahami bahwa ini adalah jurnal yang memuat penelitian terkait farmakologi etnik, yaitu farmakologi tradisional. Artinya, itu bukan jurnal utama di dunia farmakologi.

Ada juga yang dimuat di Clinical Microbiology, sebuah jurnal open access. Ini pun jurnal yang tak begitu jelas kredibilitasnya.

Tapi, bukankah penelitinya menyampaikan data? Ya. Itu data hasil pengukuran mereka. Reviewer jurnal, yang impact factor rendah, biasanya tidak terlalu ketat mempertanyakan kesahihan data. Jadi, selama metode pengukuran dijelaskan sesuai kaidah umum, mereka biasanya menerima data yang disampaikan.

Saya pernah menemukan kasus berikut. Tahun 1997 ketika saya mulai S2, ada satu grup peneliti yang mempublkasikan sintesis bahan organik yang punya sifat ferromagnetik kuat. Mereka menyampaikan data hasil pengukuran, dan dimuat di jurnal yang lumayan tinggi impact factornya. Kami kemudian melakukan pengukuran ulang, dengan sampel yang kami terima dari mereka. Setelah kami ukur, ternyata data ferromagnetik tadi bersumber dari zat pengotor yang terkandung dalam sampel.

Tapi kan sudah dipublikasi? Ya, ada ratusan ribu publikasi dibuat setiap tahun. Mana yang benar-benar sahih? Panduan kasarnya adalah, seberapa jauh itu bisa diulang, atau reproducible. Peneliti seharusnya melakukan pengukuran berulang untuk memastikan hal itu. Tapi banyak juga yang tidak melakukannya. Bahkan tidak sedikit yang melakukan cherry picking atau pilih-pilih data. Yang penting bisa publikasi.

Tapi, apa efeknya? Tidak ada. Cuma sekadar jadi kertas bertulis saja. Penelitian yang benar akan teruji oleh berbagai lapis kajian. Baik di kelompok penelitian tersebut, juga oleh kelompok penelitian lain. Bila sejumlah penelitian yang dilakukan berbagai peneliti itu menunjukkan hasil konsisten, barulah ia diakui.

Dalam hal farmasi, penelitiannya lebih ketat lagi. Setelah dilakukan berbagai pengujian di laboratorium terhadap sel yang diambil dari makhluk hidup (in vitro), lalu diujikan kepada makhluk hidup (in vivo). Kalau hasil ini benar-benar meyakinkan, barulah diujikan secara terbatas pada manusia. Selesai? Belum. Untuk bisa dipakai sebagai obat, harus dilakukan uji klinis, dengan jumlah pasien yang banyak.

Penelitian khasiat kencing unta ini masih sangat jauh dari itu. Saudi Food and Drug Authority justru tidak memberi izin bagi pengujian terhadap manusia atas hasil penelitian yang mengklaim bahwa kencing unta punya kasiat menyembuhkan kanker.

Yang jelas, WHO melarang minum kencing unta.

Kalau pun nantinya, andaikata, seandainya, mbok menowo, ditemukan bahwa kencing unta itu mengandung sesuatu yang berkhasiat bagi kesehatan, orang moderen tidak akan mengambil manfaatnya dengan minum kencing unta. Yang dilakukan adalah mensintesa zat aktifnya, dan membuat obat dengan hasil sintesa itu. Atau, membuat ekstrak dari kencing unta itu, kalau zat aktif tadi belum bisa disintesis.

Kalau minum langsung mah, karena doyan aja kali 😀

catatan Kang Hasan

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s