Kaum Islamis Susah Berkuasa di Indonesia!

Tidak seperti yang banyak digunjingkan dan dikhawatirkan banyak orang, saya berpendapat bahwa kaum Islamis susah berkuasa di Indonesia.

Yang saya maksud dengan Islamis disini adalah sekelompok kaum Muslim yang mengusung Islam sebagai ideologi politik atau yang bercita-cita “mengislamkan” atau “mengsyariatkan” negara dan masyarakat Indonesia.

Kenapa sulit? Logikanya sederhana saja.

Pertama, mereka tidak punya partai politik sendiri untuk menyalurkan agenda dan cita-cita mereka.

Selama ini mayoritas dari mereka ndompleng atau “ngupil” ke parpol-parpol lain. Bagaimana mau “menguasai” Indonesia wong mereka nggak punya parpol yang idealis-militan untuk mengusung mimpi-mimpi mereka.

Sementara itu parpol yang dekat-dekat atau sebagian menjadi sarang kelompok ini seperti PKS dan PBB nggak jelas nasib dan jelunterungnya.

PKS bukan parpol idealis, melainkan partai oportunis dan pragmatis yang baru gembar-gembor kenceng-metenteng kalau nggak dapat jatah kekuasaan dan kue pembangunan. Kalau mereka dapat jatah, langsung mingkem cangkemnya pura-pura pikun dan bego. Oleh mereka, “Islam” hanya dipakai sebagai slogan dan alat belaka untuk ngibuli jamaah Muslim dan Muslimah yang unyu-unyu.

PBB lebih parah lagi. Partai bikinan Yu Seril ini yang dianggap sebagai “neo-Masyumi”, tempat sebagian kaum Islamis sisa-sisa aktivis atau penggemar almarhum Masyumi bercokol, malah gagal-total nggak bisa ikut kontes Pemilu Legislatif 2019. Yu Seril cuma pandai ngurusi orang lain tapi nggak becus ngurusi partainya sendiri.

Parpol di Indonesia masih didominasi oleh parpol-parpol sekuler-nasionalis atau moderat-agama. Jika ada “parpol sekuler” seperti Gerindra tapi bermesraan dengan “kaum Islamis” itu anggap saja karena mereka sedang “bulan madu”. Kalau masa bulan madu lewat, ya kaum Islamis ditendang dan dilempar ke got.

Kedua, para tokoh Islamis sendiri militansi dan idealismenya dipertanyakan. Banyak dari mereka sebetulnya yang menjadi “pion-pion” atau “binaan” para politisi cap kunyuk, koruptor cap tekek, konglomerat cap kadal, atau para elit frustasi cap kecoa bunting yang gagal menggapai kekuasaan.

Jika ada para tokoh Islamis yang eksis di panggung Indonesia, itu lantaran mereka “disuapi” dan “dipelihara” oleh para begundal tengik tadi. Omong kosong jika mereka bilang bela Islam, bela ulama, bela Tuhan, bela Al-Qur’an, dan tetek-bengek lainnya. Bela perut dan si bos sih iya.

Ketiga, konflik internal akut di kalangan kaum Islamis itu sendiri karena berbeda ideologi, aliran, konsep, pandangan, gagasan, strategi, taktik, tujuan, dlsb. Mereka tampak bersatu kalau dilihat dari jauh. Tapi kalau didekati mereka sangat beraneka ragam jenis kelaminnya.

Maka, saya sarankan kepada sejumlah kelompok Islamis, jika kalian ingin mulus menggapai kekuasaan, maka bentuklah parpol yang solid, militan dan idealis. Tapi saya yakin kalian tidak akan mampu melakukannya. Banyak sudah contoh parpol-parpol yang mereka coba dirikan tapi semua kandas gulung-tikar. Yang terbaru adalah Partai Syariat 212. Baru seminggu partai ini dideklarasikan langsung bubar tangkar karena para elit dan penggagasnya ngacir rebutan nasbung.

Yang bisa dikuasai oleh kaum Islamis itu bukan negara tetapi monas dan jalan raya. Agak sarkas sih memang tapi memang kenyataanya begitu. Ya kan Don?

catatan Sumanto Al Qurtuby

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 225 pengikut lainnya

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s