Belajar Woles dari Umat Kristiani…

Saya suka menulis tulisan yang kritis, nakal, pedas dan menggelitik. Tapi sebenarnya saya tidak cuma mengkritisi ulah kaum radikal dan intoleran saja tapi kadang juga godain orang Kristen. Saya pernah posting foto sandal jepit bergambar Yesus dan Bunda Maria serta Injil yang disobek-sobek dan dijadikan bungkus tempe. Tapi mereka bukannya marah justru bilang “Semoga bisa jadi berkat buat orang lain.”

Saya posting Yesus lagi berselfie ria mereka malah bilang “Tuhan Yesus punya sense of humour yang tinggi.” Saya ceritakan sejarah kelam gereja yang pernah bakar hidup-hidup ilmuwan Giordano Bruno hanya karena bilang bumi mengelilingi matahari atau pasukan Salib yang membunuhi anak-anak dan wanita muslim di Perang Salib Pertama mereka malah bilang “Kami sudah cukup malu dengan sejarah masa lalu Mas.” Karena reaksinya woles n adem ayem saja ya saya jadi males dong godain mereka lagi. Ga seru….. 😀

baca juga: Mengapa Umat Islam Perlu Belajar dari Umat Kristen?

Godain itu paling seru kalo yang digodain jadi baper dan terpancing. Masih inget kan masa kecil kita dimana teman yang paling penakut justru biasanya paling asik buat digodain dan dikerjain? Makin rame makin seru jadinya. Contohnya ada temen yang takut sama kecoak. Ya enaknya kita bawain aja kecoak yang gede-gede biar makin seru teriaknya. Temen yang takut sama karet gelang ya paling enak rame-rame kita jepret pake karet gelang kalo perlu sampe nangis segala hehe….

Nah ini juga yang kadang bikin saya suka usil n godain kaum radikal n intoleran. Makin terpancing makin seru jadinya. Ketika saya ngomong fakta sejarah soal Khilafah Turki Utsmani yang memperkosa dan membunuh 1,5 juta warga Armenia di PD I mereka ngamuk bukan kepalang dan bilang saya bikin hoax dan mengada-ada.

Ketika saya posting berita soal militer Arab Saudi yang menyerang dan menewaskan 10.000 warga Yaman mereka langsung marah dan bilang saya menyudutkan Islam padahal itu adalah fakta apa adanya. Malah ada yang bilang kalo Syiah bukan Islam (jadi mereka pantas dibunuh gitu?)

Pas saya nulis soal pemuka agama, anak-anak ingusan, kakek-kakek hingga ibu-ibu yang teriak “Bunuh, Bunuh” sambil demo mereka juga marah padahal itu nyata terjadi dan ada rekamannya.

Kemampuan menerima kritik dan mentertawakan kekonyolan diri sendiri adalah tanda kedewasaan dalam berpikir. Ini juga menunjukkan kecerdasan emosional yang tinggi. Jika kita mau jujur menerima dan mengakui kelemahan serta kekurangan kita untuk kemudian melakukan instropeksi dan memperbaiki diri maka itu adalah sikap yang terbaik.

Tapi jika kita berlaku tidak jujur dengan diri sendiri dengan mengingkari kenyataan dan fakta yang ada maka hal itu justru tidak akan pernah membuat kita maju dan berkembang. Tulisan-tulisan kritis saya sebenarnya hanyalah sebagai autokritik agar umat dan generasi ini bisa bertumbuh dan berkembang menjadi umat dan generasi yang lebih baik. Itu saja. Tidak lebih tidak kurang….

Salam Waras

catatan Muhammad Zazuli

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s