Umat Kristen itu Tidak Ganjen Minta diberi Ucapan Selamat Natal…

Felix Siaw bilang, setiap bulan Desember umat Islam dituduh tidak toleran karena tidak mau memberi ucapan selamat Natal. Eh, siapa yang menuduh begitu? Kalau objeknya umat Islam, mungkin subjek yang menuduh yang dia maksud adalah umat Kristen.

Salah itu. Perdebatan soal ucapan selamat Natal adalah pedebatan internal umat Islam. Isinya, boleh atau tidak. Umat Kristen tidak ikut memperdebatkan itu. Lucunya, perdebatan itu disertai pembodohan dan pelintiran informasi. Informasi yang diedarkan, seolah MUI pernah memfatwakan haramnya ucapan selamat itu. Itu sudah dibantah oleh Ketua MUI waktu masih dijabat oleh Din Syamsuddin.

Bagaimana sikap umat Kristen? Kalau yang dimaksud umat Kristen adalah lembaga resmi seperti KWI dan PGI, mereka tidak peduli. Kebanyakan umat Kristen yang saya kenal juga begitu. Ada yang mengucapkan selamat Natal, mereka terima kasih. Tidak pun, tidak mengurangi khidmatnya perayaan Natal bagi mereka. Sederhananya, umat Kristen itu tidak gatel minta diberi selamat.

Kalau kita berpikir waras, itu sebenarnya sama dengan kita. Apakah kita kecewa kalau ada orang yang tidak memberi selamat saat hari raya kita? Tidak. Biasa saja. Jadi, kenapa berpikir bahwa orang lain akan kecewa kalau kita tidak mengucapkan selamat?

Saya sendiri menganut pendapat bahwa boleh saja orang mengucapkan selamat dalam perayaan hari besar agama lain. Tapi tidak mau mengucapkan pun tak masalah. Tak mengucap selamat tidak otomatis tidak toleran. Tidak ada hubungan dengan intoleransi.

Yang tidak toleran itu bukan orang yang tidak mengucapkan selamat, melainkan orang yang membenci umat lain. Orang yang menghalangi perayaan hari besar umat lain. Atau, orang yang mengarang-ngarang cerita fantasi bahwa perayaan hari besar umat lain punya tujuan untuk merusak akidah dan merusak iman orang Islam.

Coba kita lihat, menjelang Natal, siapa yang melakukan sweeping? Adakah sweeping yang sama yang dilakukan umat Kristen saat umat Islam merayakan Idul Fitri? Tidak. Nah, itu yang menjadi indikator toleransi atau intoleransi.

Retorika Felix itu adalah retorika korban. Membuat situasi palsu seolah umat Islam disalahkan, untuk menutupi fakta yang lebih penting soal intoleransi.

catatan Kang Hasan

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s