Kepemimpinan itu bukan Memberi Perintah!

“Perintah saya tak dilaksanakan,” kata Gubernur Anies Baswedan menanggapi banjir parah yang melanda Jakarta kemarin. Dalam pikiran Anies, mengatasi banjir itu seperti membuat sebuah simulasi di atas meja, lalu semua akan berjalan baik sesuai rencana. Semua patuh perintah, semua mesin bekerja dengan baik, maka semua akan berlangsung baik. Masalah teratasi.

Nies, aku ini bukan pemimpin besar seperti kamu. Aku hanya pernah memimpin pabrik dengan 200 karyawan. Kau tentu lebih berpengalaman, karena pernah memimpin universitas dan kementerian. Tapi izinkan aku mengingatkan bahwa memimpin bukan sekadar memberi perintah. Kalau memimpin selesai dengan memberi perintah, Pak Ogah pun bisa jadi pemimpin.

Memimpin itu adalah memastikan segala sesuatu berjalan, termasuk memastikan orang taat perintah. Di dalamnya termasuk perangkat untuk mengantisipasi kalau ada yang tidak menjalankan perintah. Di situ harus diletakkan asumsi, bahwa akan ada yang tidak menjalankan perintah. Berdasar asumsi itu, kau harus siapkan sistem untuk menambal, kalau asumsi itu jadi kenyataan. Itu soal yang paling sederhana dalam kepemimpinan.

Nies, seharusnya kamu tahu bahwa kamu mewarisi birokrasi bobrok dan korup. Kerja Jokowi-Ahok-Jarot selama 5 tahun itu belum cukup untuk membersihkan borok dan kudis dalam pemerintahan Jakarta. Maka kau harus waspada. Berasumsi bahwa semua perintahmu akan terlaksana adalah kebodohan tingkat dasar.

Hari-hari ini aku sedang mengurus hal yang sama, yaitu membangun sistem yang menjamin setiap orang bekerja sesuai manual, sesuai standar. Ada 7000 orang di 13 perusahaan tempat aku bekerja yang akan menjadi target sistem ini. Bagaimana membuat 7000 orang dalam 13 organisasi berperilaku standar, bukanlah sebuah kerja sederhana. Aku yakin, jajaran Pemda DKI jauh lebih besar dari itu. Otomatis masalahnya jauh lebih rumit.

Anies, kau berhadapan dengan manusia-manusia dengan 2 karakter. Pertama, kerja asal-asalan, jauh dari pofesional. Maka, kalau kau beri perintah, berasumsilah bahwa kemungkinan itu terlaksana cuma 40%. Maka jangan pernah berharap perintahmu akan terlaksana 100%.

Kedua, korup. Sadarilah bahwa dana yang kau sediakan untuk apapun, kemungkinan hanya akan terpakai dengan tepat sebanyak 40%. Sisanya akan menguap ditelan siluman.

Anies, kalau kau tak mengubah caramu memimpin, Jakarta ini akan tenggelam dalam waktu kurang dari 5 tahun.

catatan Kang Hasan

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s