Bincang Kematian dengan Bondan Winarno

Saya membaca tulisan-tulisan Bondan sejak masih kuliah. Tulisannya berupa trik bisnis dan pengembangan diri yan dimuat di kolom Kiat di majalah Tempo, cerpen, dan ulasan kuliner. Tapi saya hanya bertemu dia dua kali, dalam dua kesempatan yang saling berdekatan. Pertemuan itu terjadi dalam rangkaian acara Makassar International Writer Festival, bulan Mei tahun ini.

Saya berbicara dalam satu sesi dengan Bondan serta beberapa penulis muda, membahas soal interaksi dengan pembaca. Bondan bercerita bahwa dia bukan pemain media sosial. Boleh dibilang dia gaptek. Akun twitternya saja dibuatkan orang.

Salah satu prinsip yang dia anut, dia tidak main gawai saat sedang bersama orang lain. “Saya hanya pegang gawai saat sedang sendiri,” katanya. Ajaran ini selalu saya ingat, saya coba terapkan, meski tidak mudah.

Bondan berusaha menghindari kontroversi. Dalam sebuah tulisan tentang kuliner Semarang, di tengah tulisan ia memberi peringatan khusus. “Bagian selanjutnya dari tulisan ini melulu soal masakan daging babi. Bagi pembaca muslim yang merasa tak nyaman, silakan berhenti membacanya sekarang,” tulisnya. Itu cara dia menghindari kontroversi dari pembaca yang tak terlalu cerdas.

Tapi Bondan tak selalu berhasil. Banyak orang mengira dia muslim. Kalau kita baca cerpennya, salah satunya bernuansa kampung di Sumatera Barat, bercerita tentang kehidupan anak-anak dan guru ngaji. Bondan menuliskannya begitu indah. Tak heran kalau banyak orang yang mengira dia muslim.

Nah, suatu saat ada yang kaget. “Oh, Pak Bondan non muslim, ya?” celetuk seseorang.

“Bukan, saya bukan non muslim. Saya Kristen.”

Kontan jawaban itu menimbulkan debat kontroversial, yang sebenarnya sangat tidak perlu.

Usai acara itu tak sengaja saya bertemu lagi deham Bondan di lounge bandara. Dia sedang asyik dengan gawai. Tapi ketika saya sapa, dia langsung menyingkirkan gawainya. Lalu kami berbincang.

Entah bagaimana mulanya, kami kemudian bicara soal kematian. Bondan becerita bahwa dia pernah takut mati. Sangat takut, sampai dia depresi. Itu terjadi saat dia menjelang usia 55 tahun. “Ayah dan ibu saya meninggal di usia itu. Saya takut bahwa saya akan mati di usia yang sama. Padahal saya belum ingin mati,” tuturnya.

Ketakutan itu sirna dengan sendirinya ketika batas usia tadi ia lewati. Kematian yang tak datang membuatnya lega. Setelah itu Bondan tidak lagi dihantui ketakutan pada kematian. Belakangan ia makin merasa bebas. Ia sampai pada keyakinan bahwa mati mengakhiri segalanya. Tak ada lagi sesuatu setelah itu. Dia sangat senang ketika tahu bahwa saya juga punya keyakinan yang sama.

Tak lama kami berbincang, Bondan nak pesawat untuk pulang ke Bali. Kini ia tiba pada kematian yang tak lagi ia takuti.

Selamat jalan Bondan. Selamat menikmati sepi yang abadi.

catatan Kang Hasan

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s