Menerangkan Pembodohan Zaim Saidi

Zaim Saidi ini seorang penganut paham anti uang nominal (fiat currency). Menurut dia penggunaan uang nominal itu haram. Ia menganjurkan orang untuk pakai uang dinar dan dirham, yang menggunakan emas dan perak. Tapi jelas itu omong kosong dia saja, karena tidak mungkin orang pakai emas dan perak untuk belanja harian. Bisakah Anda bayangkan Zaim beli nasi uduk pakai emas?

Dia juga anti pajak. Bagi dia menarik pajak itu haram. Ada segolongan orang yang beranggapan demikian. Ini semata karena soal diksi saja. Zaman dulu ada pajak yang diharamkan, lantas disamakan dengan pajak zaman sekarang.

Nah, dalam postingnya ini Zaim mencoba menyesatkan orang soal pajak, dengan mengatakan bahwa pemerintah sebenarnya tidak perlu memungut pajak, karena pemerintah bisa mencetak uang sejumlah yang dibutuhkan. Ini tentu saja gagasan bodoh.

Saya tidak yakin Zaim terlalu bodoh untuk tidak paham soal ini. Ia sedang melakukan pembodohan. Orang-orang yang tidak paham, dan malas belajar, akan mengiyakan saja khayalan Zaim ini. Kemudian setelah itu Zaim akan masuk menjual dagangannya, yaitu koin emas, yang secara faktual tidak pernah dipakai Zaim buat beli nasi uduk tadi.

Benarkah pemerintah bisa seenaknya mencetak uang? Tidak. Uang yang dicetak terlalu banyak, tidak seimbang dengan produksi, hanya akan meninggikan tingkat inflasi.

Nanti nilai uang itu akan turun dengan sendirinya. Maka pemerintah sangat berhati-hati dalam mencetak uang. Pencetakan uang hanya bisa dilakukan dengan perhitungan yang sangat teliti atas keseimbangan antara jumlah uang yang beredar dengan produksi.

Ilustrasi sederhananya begini. Misalknya ada 3 orang penghuni sebuah negara kampung. Si A punya uang $3, B punya $2, dan C punya $1. Di kampung itu tersedia 60 kilo beras. Karena uang tadi hanya bisa dipakai untuk membeli beras, maka uang $6 tadi setara dengan 60 kg beras. Artinya, sekilo beras dihargai $0,1 atau $1 setara dengan 10 kg beras.

Nah, apa yang terjadi kalau uang dicetak lebih banyak, misalnya totalnya menjadi $60? Tanpa penambahan produksi, yang terjadi hanyalah kenaikan nilai beras, dari $0,1 per kg menjadi $ 1 per kg. Jadi, kita lihat bahwa pencetakan uang tanpa peningkatan produksi tidak akan ada maknanya.

Dalam situasi yang lebih nyata dan kompleks, saat pemerintah mencetak uang, akan terjadi peningkatan permintaan barang. Bila pada saat yang sama tidak terjadi peningkatan persediaan barang, maka akan terjadi permintaan tinggi. Hukum penawaran-permintaan membuat harga barang akan bergerak naik. Sama dengan ilustrasi tadi, yang terjadi hanyalah inflasi tinggi. Uang yang dicetak tidak akan ada gunanya.

Ingat, jangan mau dibodohi oleh Zaim.

catatan Kang Hasan

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Iklan

1 Comment

  1. Kalo konsep alat tukar dalam Islam (dalam hal ini uang), setahu saya, memang uang harus memiliki nilai yang sama sesuai nominal yang tertera. Simpelnya begini: uang Rp. 100.000 harus dibuat dengan bahan yang nilainya 100.000. Hal ini untuk memproteksi pemilik uang agar uang kepunyaannya tetap bernilai meskipun uang tersebut tidak diberlakukan sebagai alat tukar lagi oleh negara. Kalau uang dibuat berbeda antara nominal dan nilai pada bahannya tidak sama akan membuat orang yang memiliki uang banyak tidak bisa digunakan lagi ketika tiba-tiba uang tersebut dianggap tidak sah sebagai alat tukar.

    Suka

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s