Jilbab dan Kesempurnaan

Ada teman, perempuan berjilbab yang mengeluh. Katanya perempuan berjilbab sering dituntut untuk sempurna, sehingga kalau ia salah sedikit saja, maka orang ramai mencercanya. Memakai jilbab seolah hendak dijadikan jaminan bahwa pemakainya pasti baik.

Benarkah begitu? Entahlah. Banyak juga orang yang sebenarnya tak peduli soal siapa dan bagaimana pemakai jilbab itu. Bagi sebagian orang, jilbab tak lebih dari satu bentuk mode pakaian.

Tapi mungkin memang ada yang mengaitkannya dengan perilaku. Termasuk menuntut kesempurnaan tadi. Nah, siapa yang membuatnya jadi begitu? Sejauh yang bisa saya amati, yang membuatnya jadi begitu adalah para pemakai jilbab sendiri, bersama para penganjurnya.

Mohon maaf, terlalu sering saya menemukan pemakai jilbab merendahkan perempuan lain yang tidak pakai jilbab. Sebaik apapun seorang perempuan, ia dianggap cacat bila belum berjilbab. “Ia perempuan yang baik, tapi sayangnya tidak berjilbab.” Sering kita dengar itu bukan? Bahkan yang lebih kasar dari itu banyak. Ada yang dengan enteng menyebut orang lain masih telanjang.

Saya sering menemukan sikap hipokrit. Di mulutnya para pemakai jilbab itu sering berucap,”Saya tidak sempurna, masih banyak khilaf dan harus sering istighfar.” Tapi dalam perilaku kepada orang lain, khususnya kepada yang belum berjilbab, mereka bersikap seakan yang paling sempurna.

Suka atau tidak, di balik baju ditambah selembar kain penutup kepala itu terdapat sosok manusia, seperti manusia lain. Isinya sanga beragam. Ada yang, maaf, bajunya saja yang sesuai syariat Islam, tapi bagian lainnya jauh dari itu. Tentu saja pada saat yang sama, ada yang memang baik dalam banyak hal. Sebagaimana manusia lain, tak ada pemakai jilbab yag sempurna.

Bila kita pandang dengan cara demikian maka para pemakai jilbab jadi biasa saja, bukan? Orang banyak tak perlu menuntut mereka untuk begini dan begitu. Mereka juga hanya perlu bersikap biasa saja, sama seperti manusia lain. Tak perlu membebani diri dengan hal-hal lain yang tidak perlu. Anda bukan manusia sempurna, persis seperti tak sempurnanya manusia lain. Tanpa beban, bukan?

Kalau para pemakai jilbab membebani diri mereka dengan tuntutan kesempurnaan, maka artinya mereka memang memandang diri mereka istimewa.

Minggu lalu saya didatangi tamu, 7 mahasiswa UGM. Tiga di antaranya mahasiswi berjilbab. Dari obrolan saya terkejut saat tahu bahwa salah satu dari mereka ini setiap hari naik sepeda motor, dan tidak punya SIM.

“Kenapa tidak punya SIM?”

“Saya belum sempat bikin,” jawabnya.

“Maaf ya, kamu salah banget. Salah banget. Kamu tidak berhak naik sepeda motor kalau belum punya SIM. Jadi, alasan kamu tidak punya SIM karena belum sempat itu bai saya sangat konyol dan tidak isa diterima. Tahukah kamu bahwa tindakan kamu itu adalah tindak pidana yang punya ancaman hukuman penjarar?”

Entah dia tidak tahu, atau sekadar tidak peduli. Ada banyak mahasiswa dan mahasiswi seperti ini. Khususnya bagi mahasiswi, banyak yang seperti ini, baik berjilbab maupun tidak. Artinya, jilbab memang tidak mewakili kualitas apapun. Orang berjilbab bisa sangat berkualitas, tapi pada saat yang sama, bisa tidak berkualitas sama sekali.

Maka sekali lagi, tidak usahlah para pemakai jilbab membebani diri target kesempurnaan. Bersikaplah sebagai orang baik, yang selalu ingin jadi lebih baik lagi. Tidak ada langit-langit batas akhir tingkat kebaikan.

Pada saat yang sama, berhentilah melihat dunia dalam separasi antara yang berjilbab dan tidak berjilbab. Sosok di balik baju yang dikenakan jauh lebih penting dari bajunya.

catatan Kang Hasan

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s