Apakah Kitab Suci Sesuai Sains?

Ada yang bertanya pada saya, apakah sains dan iman itu memang otomatis akan bertentangan? Penanya seorang Kristen. Mungkinkah orang meyakini sains, sekaligus meyakini Tuhan secara bersamaan?

Sebelumnya ada juga orang lain yang gusar soal penafsiran oleh sekelompok orang terhadap kitab sucinya, yang pada kesimpulannya menyatakan bahwa bumi ini datar. Ia bertanya pada saya, bagaimana cara menjawab tafsir-tafsir yang menurut dia salah itu.

Alih-alih memberi jawaban sesuai harapan dia, saya justru membenarkan para penafsir bumi datar itu. Kenapa? Karena memang teks kitab suci itu menyatakan bahwa bumi ini datar. Dari berbagai ayat yang pernah saya baca, temuan saya memang demikianlah yang dikatakan kitab suci.

Tapi, bukankah sekarang banyak yang bilang kitab suci mengatakan bahwa bumi ini bulat? Tidak ada. Sekali lagi tidak ada. Yang ada hanyalah usaha orang sekarang untuk mencocokkan tafsir dengan pengetahuan mereka.

Tentu bukan hanya soal bumi saja. Coba cek, misalnya, tentang konsep berpikir manusia. Dengan apa manusia berpikir menurut kitab suci? Adakah narasi tentang otak? Tidak. Umumnya dikatakan bahwa manusia berpikir dengan hati.

Alam semesta dalam narasi kitab suci adalah kombinasi antara alam materi dengan non materi. Di langit sana bersemayam jin atau malaikat. Komponen alam seperti laut dan awan, misalnya, dikelola oleh malaikat.

Bagaimana kejadian manusia dan alam semesta? Tuhan menciptakannya dengan seketika. Jadilah ini, jadilah itu. Maka, banyak kalangan agama yang menolak teori evolusi, karena bertentangan dengan apa yang digambarkan pada teks-teks suci.

Hal-hal itu tentu tidak ilmiah, artinya tidak sesuai dengan narasi sains. Jadi, bagaimana? Salahkah?

Itu tergantung pada bagaimana kita memandang kitab suci itu. Kalau kitab suci kita pandang sebagai sesuatu yang sedang berkomunikasi dengan orang pada masa diturunkan/ditulisanya kitab suci itu, maka ia tidak salah. Pesan-pesannya ditulis dalam narasi dan diksi-diksi yang dipahami oleh orang-orang pada masa itu.

Tapi bukankah kitab suci seharusnya abadi? Salah. Kalau orang berharap teks kitab suci memuat kebenaran abadi, salah. Itu tidak mungkin terjadi. Banyak bagian dari kitab suci yang berbicara tentang suatu kejadian spesifik. Maka ia pun berlaku secara spesifik pula. Tidak mungkin kita lepaskan dari konteksnya.

Yang abadi adalah sebagian nilai yang dikandungnya. Itupun kalau mau diabadikan. Sebagaimana soal-soal alam tadi, tafsir manusia atas nilai-nilai yang dibawa kitab suci juga berubah. Zaman dulu orang mungkin masih memaklumi penyembelihan anak oleh seorang ayah seperti yang dilakukan Abraham. Orang zaman sekarang sulit menerima itu, selain sebagai sebuah kisah masa lalu.

Jadi, mungkinkah untuk yakin pada isi kitab suci sambil meyakini sains? Banyak orang yang berhasil melakukannya. Banyak juga yang tidak. Bagaimana bisa berhasil? Karena manusia memang tidak selalu berpikir dengan logika.

Pikiran pada dasarnya campuran antara logika dan non logika. Orang-orang yang berhasil memadukan iman dan sains biasanya lentur dalam mengelola pihak yang dominan dalam pikiran mereka. Sederhananya, kalau sedang berlutut memuja Tuhan, ia tak perlu banyak-banyak berpikir. Cukup jalani saja. Saat sedang beribadah, ia perlu banyak-banyak berpikir secara simbolik, bukan rasional.

catatan Kang Hasan

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s