3M dan 4G

3M: Muda, Muri, Mura

Ini adalah prinsip kerja efisien dalam manufaktur. Dalam istilah yang lebih umum disebut lean manufacturing. 3M ini adalah hal-hal yang harus dihindari agar tercapai kerja efisien.

Muda artinya sia-sia atau mubazir. Bagi yang sudah mengenal sistem manajemen Toyota, istilah ini tidak asing lagi. Toyota memperkenalkan prinsip Nanatsu no Muda atau Seven Waste, yaitu 7 jenis kemubaziran yang harus dihilangkan agar tecapai sistem kerja yang efisien.

Muda 1 adalah overproduksi, atau produksi yang melebihi kebutuhan. Barang dibuat tanpa mempertimbangkan jumlah pesanan, atau tidak berbasis pada data yang akurat, sehingga berlebihan. Ini tidak hanya menyangkut barang jadi, tapi juga menyangkut barang setengah jadi (WIP). Akibatnya, terjadi penumpukan barang. Tumpukan barang artinya ada tumpukan modal yang tidak bergerak menghasilkan laba.

Dalam ekspresi bahasa Jepang dinyatakan:”Hitsuyouna mono, hitsuyouna bun, hityouna toki ni tsukuru.” Artinya, membuat barang yang diperlukan, sejumlah yang diperlukan, pada waktu diperlukan saja.

Muda 2 adalah inventori. Perusahaan membeli barang tanpa mempertimbangkan kebutuhan. Akibatnya sama seperti Muda 1, menciptakan penumpukan, modal mati, dan malah berpotensi munculnya kerugian akibat barang rusak dan hilang. Untuk mengelolanya diperlukan lagi biaya tambahan.

Muda 3 adalah menunggu, yang menghabiskan waktu. Setiap detik berlalu adalah sumber biaya bagi perusahaan. Karyawan terus dibayar, aset terus memunculkan depresiasi. Seharusnya semua bekerja, berproduksi, menghasilkan laba.

Menunggu bisa terjadi akibat komunikasi tidak lancar, sistem kerja antar bagian jadi tidak sinkron. Misalnya, produksi tidak berjalan karena bahan baku belum ada, akibat keterlambatan saat memesan. Menunggu juga bisa terjadi karena alat rusak, karena kurang perawatan.

Muda 4 adalah gerakan barang atau benda yang tidak perlu selama proses produksi. Misalnya, yang umum terjadi, bahan dikirim dari pemasok, ditempatkan di gudang. Lalu, saat hendak dipakai dibawa ke jalur produksi. Nanti setelah diproses disimpan lagi di gudang. Berapa banyak waktu dan tenaga terbuang untuk proses pemindahannya? Yang dilakukan Toyota adalah menerima bahan langsung di tempat kerja, dipakai, kemudian langsung dikirim setelah barang selesai diproses.

Muda 5 adalah transportasi. Ini mirip dengan Muda 4. Pada Mida 4 gerakan barang dan orang terjadi dalam suatu proses. Transportasi terjadi antar proses. Perpindahan dari satu jalur produksi ke jalur untuk proses selanjutnya harus melalui jarak yang jauh, arus barang tidak lancar, sehingga menghabiskan waktu dan tenaga. Bahkan tidak jarang prosesnya melibatkan perpindahan dari satu pabrik ke pabrik lain.

Muda 6 adalah pengerjaan kembali, atau rework, akibat ketidaksesuaian. Sebabnya, kerja tanpa pedoman yang jelas, atau pedoman tidak diikuti secara disiplin. Barang tidak sesuai tidak memenuhi kebutuhan konsumen, sehingga tidak bisa dikirim. Barang diproses ulang, secara otomatis jadi pemborosan bahan, tenaga, dan waktu.

Muda 7 adalah proses yang mubazir. Barang diproses melebihi kebutuhan. Ada proses di tengah jalan yang seharusnya bisa dihilangkan, tapi terus dilakukan. Kenapa dilakukan? Bisa jadi karena tidak disadari kemubazirannya.

Muri artinya mustahil atau sulit. Ini bisa menyangkut rencana, juga cara kerja. Rencana produksi yang mustahil adalah rencana yang tidak berdasar pada data sahih soal kapasitas mesin, ketersediaan bahan baku, serta tenaga kerja. Akibatnya akan terjadi pemaksaan di satu atau banyak titik dalam proses produksi.

Cara kerja sulit adalah cara kerja yang sulit dilakukan, dan hanya bisa berjalan kalau dipaksakan. Contoh sederhana, operator tidak dilengkapi dengan peralatan yang cukup, sehingga mereka tidak bekerja secara optimum. Mereka, misalnya, harus membuka sekerup + dengan obeng -, sehingga proses kerja memerlukan waktu lebih lama.

Kerja sulit juga sering mengancam keselamatan. Misalnya pemimdahan barang dilakukan dengan tenaga manusia, bukan conveyor belt. Selain lambat, cara kerja seperti ini membahayakan pekerja.

Mura artinya tidak merata atau tidak stabil. Produk dihasilkan dengan varian kualitas yang lebar. Atau, jumlah hasil produksi turun naik secara drastis. Sebabnya banyak. Pertama, mesin yang lurang terawat sehingga tidak berjalan dengan baik. Pekerja yang tidak terampil dan tidak disiplin. Atau tingkat keterampilan pekerja tidak merata. Bisa juga terjadi karena kerja antar bagian yang tidak sinkron.

3M harus dideteksi, ditemukan, dan dihilangkan, agar didapat sistem produksi yang efisien. Caranya adalah dengan melakukan kaizen secara terus menerus.

4G : Genba, Genbutsu, Genjitsu, Genmitsu

Kaizen adalah upaya perbaikan atau improvement. Kaizen harus dilakukan terus menerus. Tidak ada kondisi ideal, tidak ada kondisi terbaik atau sempurna. Selalu ada ruang untuk perbaikan. Kalau tidak menemukan agenda untuk kaizen bukan berarti kita sudah sangat baik. Kita saja yang malas atau tidak jeli mengamati.

Kaizen adalah kegiatan bottom up, beranjak dari bawah, sebagai jawaban atas masalah di lapangan. Maka kaizen dirumuskan berdasarkan fakta-fakta dari lapangan. Fakta-fakta dirumuskan dengan prinsip 4G: Genba, Genbutsu, Genjitsu, Genmitsu.

Genba adalah tempat terjadinya sesuatu. Dalam hal industri manufaktur, genba adalah tempat kerja, berupa pabrik, gudang, maupun workshop. Sering kali pula disebut shokuba (tempat kerja). Kaizen adalah kegiatan yang berpusat di lapangan. Untuk merumuskan tindakan, kita wajib turun langsung ke lapangan. Pelaksanaannya pun harus dilaksanakan dengan terjun langsung ke lapangan.

Genbutsu artinya benda nyata. Perumus aktivitas kaizen harus langsung melihat keadaan genba secara fisik, bukan sekadar berbasis pada data di atas kertas.

Genjitsu artinya situasi nyata. Kita harus melihat, mengamati langsung proses yang sedang terjadi di lapangan. Baik genjitsu maupun genbutsu menyampingkan segala bentuk asumsi dan prediksi. Basisnya harus benda nyata, kejadian nyata.

Genmitsu artinya teliti. Fakta dikumpulkan dengan lengkap dan detil, tidak berdasarkan kira-kira. Bila fakta yang diperlukan menyangkut besaran fisis, maka ia harus dinyatakan dalam data hasil pengukuran.

Bila ia menyangkut hubungan proses, misalnya sebab-akibat, maka sebab harus digali sampai ke akar masalah, menyentuh hal yang sangat mendasar (honshitsu). Jangan sampai melakukan kaizen terhadap sesuatu yang merupakan akibat, tidak menyentuh akar persoalan.

Tidak jarang orang melakukan kaizen yang dirumuskan tanpa memahami prinsip 4G ini. Segala sesuati dipikirkan dengan reka-reka dan kira-kira. Kaizen seperti ini tidak akan membawa hasil yang baik.

catatan Kang Hasan

 

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s