Menjelaskan Komunisme pada Anak

“Ayah, komunisme itu apa sih?” tanya Ghifari, anak saya yang sekolah di SMP kelas 1.

“Kamu sedang belajar soal itu di sekolah?”

“Nggak sih, pengen tahu aja. Kata temenku, komunis itu nggak bertuhan.”

“Wah, salah itu. Yang nggak bertuhan itu ateis, bukan komunis. Komunis itu aliran pemikiran ekonomi dan politik. Tidak ada hubungan dengan agama dan Tuhan. Hal penting yang harus kamu ingat, ada banyak orang ateis yang tidak komunis. Mereka kapitalis. Sebaliknya, banyak orang komunis yang tidak ateis. Yang muslim aja banyak kok.”

“Oya? Ada komunis yang muslim?”

“Iya. Dulu pemimpin Partai Komunis Indonesia banyak yang muslim kok. Aidit itu muslim. Setidaknya ia berasal dari keluarga muslim. Entah setelah dia jadi pemimpin PKI, dia masih muslim atau tidak. Di Arab juga ada partai komunis.”

Lalu saya ceritakan sejarahnya.

“Dulu manusia bekerja dengan alat-alat sedehana, menghasilkan barang dalam jumlah sedikit. Maka kalau ada perusahaan membuat barang, hasilnya sedikit saja. Karena itu perusahaan tidak ada yang besar. “

“Pada abad XVII James Watt, kamu pernah dengar?”

“Iya, yang bikin mesin uap itu ya?”

“Iya, dia menciptakan mesin uap, yang kemudian dipakai di pabrik-pabrik. Dengan bantuan mesin ini, pekerjaan menjadi lebih cepat. Ini memicu penciptaan berbagai jenis mesin lain. Kerja di pabrik jadi lebih cepat, dan dihasilkan lebih banyak barang. Maka perusahaan-perusahaan membesar dengan cepat. Ini yang disebut Revolusi Industri.”

“Karena Revolusi Industri, orang-orang jadi giat mengumpulkan uang untuk modal, dan mendirikan perusahaan. Maka tumbuhlah berbagai jenis perusahaan. Tidak hanya industri, tapi juga perusahaan perdagangan. Mekanisme kerjanya banyak memakai gagasan Adam Smith. Tumbuh kembangnya perusahaan, mengumpulkan modal untuk mendirikan perusahaan, ini yang disebut kapitalisme. Kapital itu artinya modal. Para pemilik modal disebut kapitalis.”

“Kapitalisme memicu pertumbuhan ekonomi yang cepat. Industri berkembang pesat. Pemilik modal mendirikan banyak perusahaan. Yang tidak punya modal bekerja pada mereka. Tahu nggak, sebagai apa?”

“Sebagai buruh. “

“Betul. Nah, para kapitalis ini banyak yang tamak. Mereka ingin dapat keuntungan besar, dengan cara memeras para buruh. Para buruh dibayar dengan sangat murah.”

“Waduh.”

“Ya, akibatnya, terjadilah kesenjangan. Kaum kapitalis menjadi sangat kaya, buruh yang diperas sangat miskin.”

“Nggak adil, dong.”

“Memang. Maka kemudian muncul seorang pemikir Jerman bernama Karl Mark. Ia mengritik sistem kapitalisme melalui buku berjudul Das Kapital. Artinya The Kapital. Ia mengritik kapitalisme.”

“Gagasan Karl Mark adalah menciptakan sistem yang adil bago kaum buruh, yang dia sebut proletar. Kaum proletar harus menguasai alat produksi, yaitu peralatan yang dipakai untuk bekerja. Mereka punya mesin, dan menghasilkan barang dengan mesin itu. Sederhananya, mereka ikut memiliki perusahaan. Ia ingin ada pemerataan, bukan kesenjangan. Bagus nggak menurut kamu?”

“Bagus, dong.”

“Iya, tujuannya bagus. Tapi pelaksanaannya berbeda. Marx mengusulkan agar perusahaan tidak dimilki oleh perorangan, tapi dikelola oleh negara. Tidak boleh ada swasta. Semua urusan diserahkan kepada negara. Hasilnya dibagikan ke rakyat.”

“Berdasarkan gagasan ini di Rusia terjadilah revolusi, yang kemudian menghasilkan negara komunis. Kelak negara ini berkembang menjadi Uni Sovyet, gabungan dari sejumlah negara di sekitar Rusia. Lalu banyak negara Eropa Timur yang menjadi komunis.”

“Di satu sisi banyak negara seperti Amerika, Inggris, Perancis, dan lain-lain berkembang sebagai negara kapitalis. Maka dunia terbelah dua, yaitu blok komunis dan kapitalis. Ada negara yang terbelah dua pula, seperti Jerman, jadi Jerman Barat dan Jerman Timur. Vietnam terbelah antara selatan dan utara. Demikian pula Yaman.”

“Negara-negara komunis sayangnya tidak berjalan dengan baik. Segala sesuatu yang diatur pemerintah ternyata tidak memicu pertumbuhan yang baik. Itu ditambah lagi dengan masalah korupsi. Pemerintah komunis umumnya diktator.”

“Diktator itu apa?”

“Mereka memerintah semaunya, suka-suka sendiri. Akibatnya, banyak korupsi. Alih-alih membuat pemerataan, malah menimbulkan kesenjangan. Kini kesenjangannya antara elit pemerintah dengan rakyat biasa.”

“Karena keadaan itu, akhirnya komunisme gagal. Uni Sovyet bubar di tahun 90-an. Diikuti dengan berubahnya negara-negara komunis Eropa Timur. Yang bertahan hanya beberapa, yaitu Cina, Korea Utara, Cuba, dan Vietnam.”

“Jadi, komunis itu sudah nggak ada?”

“Ada. Tapi sudah banyak berubah. Di Cina sekarang banyak perusahaan swasta yang besar. Ini bisa kita sebut modified communism, komunisme yang dimodifikasi.”

“Tidak cuma komunisme yang berubah. Kapitalisme juga. Pemerintah kapitalis juga mengubah sistem, agar lebih merata. Para kapitalis diatur agar tidak seenaknya. Mereka dipajaki tinggi, tanahnya dirampas negara, dipakai untuk kebutuhan bersama melalaui program land reform. Ini yang kemudian dikenal dengan welfare state, atau negara kesejahteran.”

“Jadi sekarang tidak ada lagi komunis murni, juga tidak ada kapitalis murni.”

“Di Indonesia gimana?”

“Dulu ada Partai Komunis Indonesia atau PKI, didirikan di zaman Belanda, berjuang untuk kemerdekaan.”

“Oh, PKI itu juga berjuang?”

“Iya. Mereka pernah memberontak pada Belanda tahun 1927.”

Lalu kenapa jadi jelek?”

“Itu sisi persaingan politik. Tahun 1948 ada konflik, yang sebenarnya di dalam tubuh militer. Terjadilah peristiwa saling bunuh. Yang PKI dan bukan PKI berkonflik. Tahun 1965 juga begitu. Itu disebut pemberontakan, tapi ada juga yang menyebutnya sebagai konflik internal di kalangan militer. Karena peristiwa itu PKI kemudian dilarang, dan dianggap jelek.”

“Beberapa hal penting yang harus kamu ingat, komunis itu bukan ateis. Ia mazhab pemikiran ekonomi politik.”

“Tapi kenapa disebut ateis?”

“Itu karena ada pernyataan Marx yang menyebut agama itu candu. Maksudnya adalah agama, yang terlalu fokus pada akhirat, sering membuat orang lalai, dalam hal ini kaum proletar, dalam memperjuangkan nasibnya. Itu bukan ajaran untuk memusuhi agama. Sebuah peringatan saja.

catatan Kang Hasan

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 345 pengikut lainnya

Iklan

2 Comments

  1. Memberi informasi yang benar pada anak perlu dibiasakan. Biar mereka nggak langganan hoax saat gede nanti. Saya salut sama kesabaran ortu dalam menjelaskan komunisme pada anaknya.

    Suka

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.