Tentang Lepas Jilbab

Banyak kawan saya yang berubah, dari tidak pakai jilbab jadi pakai jilbab. Ada juga yang tadinya pakai jilbab, jadi tidak pakai. Ada yang pakai, buka, pakai lagi. Atau sebaliknya.

Ada beberapa yang fenomenal. Salah satunya, dulu waktu masih SMA tahun 90-an, siswi sekolah Katholik. Dia “tecerahkan” dan ingin pakai jilbab. Pihak sekolah tidak membolehkan. Dia juga tidak mau keluar dari sekolah itu. Komprominya, dia pakai jilbab di depan pagar sekolah, buka saat masuk, pakai lagi saat keluar.

Kelak, belasan tahun kemudian, setelah dia jadi doktor, saya temukan dia tidak lagi pakai jilbab.

Kenapa orang pakai jilbab, alasannya sangat beragam. Demikian pula, alasan orang berhenti pakai jilbab, juga sangat beragam. Semua itu personal belaka. Maka, jangan campuri.

Tapi orang Indonesia memang biasa turut campur urusan pribadi orang lain. Yang tidak pakai jilbab disindir-sindir. Yang pakai jilbab tapi belum sesuai syar’i diejek. Ada banyak orang yang pakai jilbab karena berbagai bentuk tekanan sosial itu.

Arus utama adalah berubah dari tidak pakai jilbab jadi memakai jilbab. Arus sebaliknya adalah arus minor. Maka yang menjalani arus minor itu biasanya mendapat sorotan dan tekanan.

Jilbab menjadi ukuran kebaikan. Orang yang berubah menjadi pemakai jilbab dianggap hijrah. Sepotong kain di kepala itu seakan mengubah segalanya.

Kalau kita katakan bahwa jilbab itu bukan segalanya, orang akan membantah dengan berbagai cara. Sampai ada yang bilang begini,”Berjilbab itu belum pasti baik. Tapi, perempuan baik, pasti berjilbab.”

Meski tidak eksplisit, pernyataan itu memuat kandungan bahwa yang tidak berjilbab itu pasti tidak baik. Nah, apa ukuran kebaikan? Kita tahu bahwa ada banyak kebaikan. Jujur, sopan, tertib, bersih, amanah. Semua itu tidak tergantung pada jilbab. Tapi, semua bisa diabaikan kalau seseorang tidak berjilbab. Sebaik apapun, dia tidak dianggap baik kalau tidak berjilbab.

Meski dikatakan bahwa yang berjilbab itu belum tentu baik, banyak orang cenderung mengabaikan hal lain ketika seseorang sudah berjilbab. Atau, banyak orang yang mengabaikan hal lain, padahal ia sudah berjilbab.

Bagi saya jilbab itu pilihan yang sangat pribadi. Memakai jilbab sebenarnya tak banyak mengubah manfaat dan mudarat seseorang bagi lingkungannya. Perilaku dialah yang menentukan manfaat atau mudarat itu. Maka saya lebih suka memperhatikan perilaku sosial ketimbang jilbab.

Kita buat check list saja.

  • Masih suka naik motor tanpa helm?
  • Buang sampah sembarangan?
  • Menyerobot antre? dan hal-hal lain yang serupa

Berjilbab atau tidak, kalau seseorang bersikap seperti itu, sungguh mengganggu, bukan?

catatan Kang Hasan

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s