Pelajaran dari Rina Rose: Lebih Baik Jangan Berjilbab!

Rina Nose, artis dan pembawa acara menuai cibiran. Pasalnya karena artis ini sebelumnya memutuskan pakai jilbab, lalu karena alasan personal, dia membukanya lagi. Apa yang didapat? Hujatan dan cacian sedemikian gila, seolah Rina Nose sedang melakukan kejahatan yang teramat sangat.

Padahal melepas dan memakai jilbab adalah hak dia secara personal. Orang bisa mengatakan itu adalah kewajiban beragama. Lalu, jika Rina tidak menjalankan kewajiban itu, masalahnya buatmu apa? Kenapa juga banyak orang nyinyir dan mencacinya habis-habisan.

Pertanyaan saya, dengan mengalami kondisi seperti itu, apakah Rina menyesal pernah memilih pakai jilbab? Saya rasa iya.

Seandainya dia tidak pernah menjajal memakai jilbab, dia tidak akan dihina sedemikian rupa. Dia tidak akan direndahkan oleh orang-orang yang merasa sok suci. Seandainya dia tidak pernah memakaikan kerudung panjang menutupi rambutnya, hidupnya akan aman-aman saja.

Inilah kita. Merasa sok suci. Mencela orang berdasarkan ukuran-ukuran kita sendiri. Toh Rina memakai dan membuka jilbab, tidak akan membuat para pencela dan penyinyir itu masuk surga atau masuk neraka. Jilbab Rina tidak ada hubungannya dengan kualitas keagamaan orang lain. Lalu apa masalahnya?

Psikologi seperti ini sama seperti orang-orang yang mencurigai sepasang kekasih berbuat mesum lalu menelanjanginya. Ini terjadi di Tanggerang. Orang-orang biadab ini, yang marah karena ada orang berlaku mesum, tapi menelanjangi seorang wanita di muka umum.

Padahal dua pasangan kekasih itu tidak melakukan apa-apa. Mereka dicurigai punya moral lebih buruk dari penggerebeknya, lalu dinistakan sedemikian rupa. Justru para penggerebek itulah yang moralnya lebih bejat. Mereka memaksa orang bugil di depan khalayak, dipermalukan, diarak dengan kehinaan. Dua orang tidak bersalah itu dihina seperti binatang.

Tidak ada kebejatan yang lebih buruk dari para penggerebek itu. Merekalah sebejat-bejatnya manusia. Alhamdulillah, polisi telah menangkap mereka. Tapi pasal apa yang dituduhkan kepada mereka nantinya? Perbuatan tidak menyenangkan?

Padahal, kelakuan mereka dengan menelanjangi orang di muka umum, lebih sadis dari pembunuhan. Lebih nista dari perkosaan. Lebih jahat dari perampokan.

Pelajaran penting dari Rina Nose adalah : jangan memakai jilbab. Sebab bila Anda memakai jilbab dan kemudian membukanya karena satu alasan personal yang tidak dapat dihindari, maka caci-maki sosial akan mendarat ke diri Anda, seakan Anda melakukan dosa yang luar biasa.

Kita kini hidup di tengah masyarakat hipokrit. Masyarakat yang sakit karena merasa berhak menjadi polisi moral. Merasa menjadi Hansip atas nama agama.

“Makanya, mas. Sampai sekarang aku gak pernah mau memakai Jilbab,” ujar Bambang Kusnadi. “Kalau pakai jilbab, aku ribet dorong gerobak buburnya.”

catatan Eko Kuntadhi

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Iklan

1 Comment

  1. Sebagian orang nyinyir karena mereka menghayati agamanya nggak lebih sebagai simbol atau identitas belaka. Dan ini erat kaitannya dengan psikologi komunal, di mana seseorang yang ‘keluar’ dari identitas kelompoknya dianggap melawan kelompoknya itu.

    Suka

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s