Khilafah itu Hanya Gagasan Manusia!

khilafah

Salah satu metode dakwah HTI adalah dengan menakut-nakuti orang. Khilafah ini perintah Allah, amanat Rasul. Kalau kalian tolak, maka akidah kalian bermasalah. Ingat, ganjarannya neraka. Mereka menyodorkan sejumlah dalil.

Saya tidak akan membahas dalil. Lebih asyik kalau kita soroti fakta sejarah. Dalil bisa diramu kemudian ditekuk-tekuk sesuai kemauan peramunya. Kalau sejarah, agak sulit menekuknya.

Benarkah khilafah itu adalah ajaran dari Tuhan? Tak lama setelah Nabi wafat, orang-orang Madinah berkumpul di Saqafat Bani Saidah, untuk menentukan siapa pemimpin setelah era Nabi berakhir. Saad bin Ubadah yang hadir dalam acara itu sudah hampir diangkat jadi pemimpin, kalau Abu Bakar dan Umar tidak buru-buru datang, kemudian ikut serta.

Pertemuan itu cukup tegang. Abu Bakar mengklaim bahwa kaum Muhajirin lebih berhak atas kepemimpinan, tapi ditolak oleh sebagian kaum Anshar. Hubab bin Mundzir sempat menghunus pedang dalam pertemuan itu. Umar akhirnya bisa mengarahkan hadirin untuk berbaiat pada Abu Bakar. Tapi Abdullah bin Abbas, sepupu Nabi yang juga hadir di situ tidak berbaiat.

Apakah itu gambaran tentang orang-orang yang telah bersepakat untuk menjalankan sistem yang diturunkan Tuhan? Tidak. Itu adalah orang-orang yang sedang berebut posisi kepemimpinan.

Pada masa lain, Ali menjadi khalifah. Aisyah istri Nabi memberontak, menimbulkan Perang Unta. Kemudian Muawiyah mengerahkan pasukan yang lebih besar untuk melawan Ali. Intrik politik dilakukan, akhirnya sampai nyaris memakzulkan Ali, sebelum akhirnya ia dibunuh oleh seorang fanatis Khawarij.

Apakah perang-perang itu menggambarkan orang-orang yang sedang menjalankan sistem buatan Allah? Tidak.

Muawiyah akhirnya berhasil merebut kekuasaan. Setelah Ali wafat sebagian orang berbaiat kepada Hasan, putra Ali. Tapi secara faktual Muawiyah dengan kekuatan pasukan yang lebih besar mendapat pengaruh yang lebih besar.

Muawiyah kemudian mengubah sistem pemerintahan, dari sistem kolektif di mana pemimpin dipilih, menjadi sistem kerajaan. Sejak itu pemimpin, meski tetap disebut khalifah, berganti secara turun temurun. Karena turun temurun, tak ada lagi proses seleksi. Maka orang-orang dengan perilaku menyimpang seperti Yazid pun bisa menjadi khalifah.

Saya pernah tertawa ngakak ketika ada intelektual Hizbut Tahrir yang menyebut Yazid itu orang fasiq. Bagaimana mungkin ada orang fasiq bisa menjadi pemimpin pada sebuah sistem yang diklaim sebagai sistem buatan Tuhan?

Mulai dari pertemuan di Saqafat Bani Saadah, pertempuran di Perang Jamal dan Perang Shiffin, beridirinya dinasti Umayyah, pembunuhan terhadap cucu Nabi di Karbala, pembantaian oleh Al-Safah (pendiri Dinasti Abbasiyah) terhadap anak cucu Muawiyah, hingga tercerai-berainya kekuasaan Turki Usmani, itu adalah sederet proses sejarah, hasil olah pikir dan nafsu syahwat manusia untuk berkuasa. Itu semua hasil karya manusia belaka. Tidak lebih dan tidak kurang.

Itu semua sama saja dengan pemikiran para pemimpin negeri, termasuk di dalamnya ulama, ketika mereka memutuskan untuk membentuk negara ini, Republik Indonesia. Ada ulama yang menolak keputusan itu. Sama saja. Ada juga yang menolak pembaiatan atas Abu Bakar. Ada pula yang menolak berbaiat pada keturunan Muawiyah. Artinya, ada orang yang punya gagasan, ada yang menentangnya.

Kita tidak akan masuk neraka karena tidak setuju dengan gagasan orang. Termasuk gagasan tentang khilafah. Statusnya sama saja dengan Anda tidak setuju dengan gagasan saya. Itu tidak akan membuat Anda masuk neraka. Bahkan masuk angin pun tidak.

catatan Kang Hasan

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s