Ketika Nabi Disaingi Handphone

Kalau sekarang pagi-pagi Anda menemukan anak gadis Anda tidur dengan seorang laki-laki di kamarnya, Anda tentu akan marah besar. Saya juga akan marah. Begitu pula halnya dengan orang-orang di Eropa pertengahan abad yang lalu.

Seabad lagi, atau setengah abad lagi, mungkin hal itu menjadi hal yang biasa saja bagi orang-orang Indonesia. Di zaman anak cucu kita nanti, mungkin gaya hidup itu yang akan dianut.

Kenapa begitu? Kenapa kita harus mengikuti gaya hidup mereka? Tidakkah kita bisa bertahan dengan prinsip-prinsip kita?

Kesadaran kita masih mengatakan kita harus bertahan. Tapi kenyataan, tindakan yang kita lakukan terus bergeser. Seabad yang lalu, atau setengah abad yang lalu, kita masih biasa menemukan orang-orang bersaudara, satu ayah lain emak. Mereka produk poligami. Kini orang seperti itu sudah makin langka. Apakah ajaran agama tentang poligami berubah? Tidak. Yang berubah adalah sikap kita terhadap ajaran poligami.

Secara umum dapat kita katakan bahwa sikap kita terhadap ajaran agama berubah. Seabad lalu mungkin masih banyak orang yang setuju hukum potong yangan terhadap pencuri. Tapi kini tidak lagi. Hukumnya sendiri tidak berubah.

Ingat, itu akan terus berubah. Cara hidup kita akan terus berubah. Demikian pula dengan cara kita beragama, dan sikap kita terhadap agama.

Apakah itu terjadi karena ada pihak yang benci pada agama kita, dan ingin menjauhkan kita darinya? Tidak. Itu terjadi karena kita mengadopsi cara hidup modern, melalui pemakaian teknologi.

Coba perhatikan, bagaimana cara Anda belanja sekarang. Pakai apa? Online. Akibatnya sudah mulai terasa. Toko-toko besar mulai bangkrut karena orang belanja online. Anda tidak lagi menelepon perusahaan taksi untuk naik taksi. Anda kini memanggil mereka lewat aplikasi di telepon pintar.

Anda tidak bisa menghindar dari hal-hal yang memudahkan hidup Anda. Sadarkah bahwa kemudahan-kemudahan itu mengubah cara hidup Anda secara perlahan? Ia mengubah nilai-nilai yang Anda anut. Ia bahkan mengubah tata cara Anda berhubungan seksual.

Tentu ada perlawanan. Tentu ada usaha untuk membelokkannya. Tapi usaha itu sangat kecil dibandingkan dengan arus utamanya.

Suka atau tidak, yang membuat telepon pintar di tangan Anda adalah orang-orang yang tidak taat agama. Mereka tidak ingin hidup dengan nilai-nilai yang Anda pegang, nilai-nilai yang ditetapkan oleh orang-orang yang hidup belasan abad lalu. Mereka sedang membuat nilai-nilai baru, yang mereka jalankan.

Mereka tidak mendakwahkan nilai-nilai itu secara verbal seperti nabi-nabi pada masa lalu. Mereka cukup menghadirkan kenyamanan. Anda menikmatinya. Lalu Anda jadi penganut nilai-nilai itu.

Tahukah siapa saingan Nabi Anda sekarang? Handphone di tangan Anda.

catatan Kang Hasan

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s