Standar Kita, Standar Orang

“Homoseks itu menjijikkan,” komentar seseorang.

“Kalau soal menjijikkan, muka kamu bisa saja menjijikkan bagi orang lain. So what?” jawab saya.

Begitulah. Kita begitu sering mengukur atau menilai orang lain dengan standar yang kita anut. Kita anggap seolah standar kita adalah standar universal. Padahal itu standar yang subjektif belaka.

Makan ulat sagu bagi kebanyakan orang yang hidup di Pulau Jawa adalah menjijikkan. Tapi tidak bagi suku-suku tertentu di Papua. Sebaliknya, bagi mereka mungkin oncom itu menjijikkan, padahal itu makanan lezat bagi kita.

“Homoseks itu dilarang oleh agama.”

“Ya, oleh agama kamu, bukan?”

Dia masih ngeyel juga. “Semua agama melarang homoseks,” katanya. Pernahkah dia memeriksa ajaran semua agama? Tidak. Dia hanya hendak memaksakan bahwa standar dia adalah standar universal. Kalaupun iya, bahwa semua agama melarang homoseks, tetap itu bukan standar universal. Karena tidak setiap orang beragama. Jadi, kalau Anda bukan homoseks, biarlah. Sebagaimana biarkan orang lain dengan orientasi seksual dia.

  • Tapi, agama saya menyuruh saya untuk menyampaikan yang benar. Maka, sampaikanlah bahwa agamamu melarang homoseksualitas.
  • Tapi, agama saya menyuruh saya menasehati orang yang keliru. Maka nasehatilah, selama itu tidak mengganggu dia.
  • Tapi hukum agama saya mewajibkan tindakan ini dan itu kepada mereka. Maaf, simpan saja hukum agamamu, karena kita di Indonesia tidak menjadikan hukum itu sebagai hukum kita. Hukum kita tidak melarang homoseksualitas. Maka, jangan gunakan hukum lain untuk menindaknya.

Itu adalah contoh kusutnya pikiran orang-orang tentang sesuatu. Orang lupa pada kenyataan bahwa kita ini hidup bersama dalam suatu ruang. Kita berbagi ruang hidup. Untuk hidup di situ kita harus memakai suatu standar yang disepakati. Apa standarnya? Dalam konteks Indonesia, standarnya adalah konstitusi, di bawahnya ada perangkat undang-undang, serta berbagai aturan di bawahnya.

Banyak orang melupakan itu, kemudian mencoba memaksakan standar-standar yang dia anut. Mulai dari agama, sampai preferensi pribadi, hendak dipaksakan ke orang lain. Itu sumber kekacauan di berbagai tempat, dalam berbagai kejadian.

Nah, soal standar tadi berlaku sebaliknya.

Kalau ada orang pakai cadar, jangan direwelin. Itu hak dia, dan pilihan dia. Orang mau poligami, juga urusan dia. Ingat, hukum kita masih membolehkan poligami. Makanya saya tidak pernah meributkan orang pakai cadar, atau poligami. Itu urusan dia, kok.

catatan Kang Hasan

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s