Homoseksualitas dan Ketidaksiapan Orang Tua

Tadi pagi ada seorang ibu yang berkomentar di wall saya, dengan sebuah pertanyaan tentang homoseksualitas. “Bagaimana kalau anak Anda teryata seorang homoseks? Apa yang Anda lakukan?”

Jawaban saya,”Tidak ada.” Yang saya pahami, homoseks itu bukan penyakit, bukan kelainan. Jadi, tidak ada yang perlu saya lakukan terhadap seorang homoseks. Boleh saja saya tidak suka dengan kenyataan itu, tapi saya tidak bisa mengubahnya.

Lalu saya ajukan pertanyaan balik,”Bagaimana kalau anak Anda yang homoseks? Apa yang akan Anda lakukan?”

Jawaban si ibu tadi sungguh mencengangkan. “Saya akan menjaga pergaulan anak saya, sejak dini akan saya cegah dia agar tidak jadi homoseks,” tulis saya.

“Maaf, Bu. Jawaban Anda tidak sesuai pertanyaan. Jawaban Anda itu adalah tindakan pencegahan. Tapi apa yang akan Anda lakukan bila anak Anda homoseks?”

Jawaban dia lebih menggelikan lagi. “Saya tidak mau menjawa pertanyaan itu, karena saya tidak ingin anak saya homoseks.”

Siapakah yang ingin anaknya homoseks? Tidak ada. Lebih penting lagi, kenyataan seseorang homoseks atau tidak, tidak tergantung dari apa yang kita inginkan. Itu sesuatu yang tidak bisa kita kontrol.

Ini adalah situasi kalut yang banyak dialami oleh para orang tua. Mereka tidak tahu banyak soal homoseksualitas. Kalau pun diberi tahu, mereka enggan menerima pengetahuan itu. Mereka lebih cenderung untuk pecaya pada doktrin-doktrin masa lalu.

Pertanyaan yang diajukan si ibu tadi tidak dalam rangka ingin tahu atau mengumpulkan informasi. Itu adalah pertanyaan jebakan, untuk memojokkan saya, agar saya mengoreksi sikap saya soal homoseks. Jebakan itu gagal.

Nah, sebaliknya, ibu tadi, selain memamerkan minimnya pengetahuan dia soal homoseksualitas, juga memamerkan kebingunan dia. Dia tidak punya panduan sahih tentang bagaimana harus bersikap kalau anaknya ternyata homoseks.

Yang akan dia lakukan bisa kita tebak. Marah, lalu memusuhi anaknya. Kalau perlu mengusir anaknya. Membuangnya. Atau, ia akan mencari cara-cara penyembuhan, dengan doa, ibadah, dan sebagainya. Silakan. Tapi di negara-negara Barat sana cara itu sudah coba dipakai selama ratusan tahun, dan gagal.

Situasinya akan membuat anak depresi, demikian pula orang tuanya

catatan Kang Hasan

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s