Catatan Tri Kartika Sari Tentang Ahok

4-5 tahun yang lalu, pernah kukenali seorang yang begitu peka akan kesulitan orang lain. Lekat dalam ingatan, saat pertama berkunjung ke ruang kerjanya di Balaikota, kala ia masih menjabat Wakil Gubernur DKi Jakarta, 12 Februari 2013 silam.

Kubawa sebuah lukisan yang hendak kujual padanya, karena saat itu hidup tengah menghimpitku dalam kesulitan ekonomi. Tak tahu lagi bagaimana cara mendapatkan uang, sementara pekerjaan belum pula kudapatkan.

Ketika bertemu tak sanggup mengatakan hendak menjual lukisan, maka kuberikan saja lukisannya sebagai kenang-kenangan. Ia terima lukisanku dengan mata berbinar dan senyum penuh penghargaan. Hati ini sedih sekaligus senang lantaran melihat senyumnya. Kuikhlaskan lukisanku walau masih tak tahu bagaimana caranya dapatkan uang sementara lukisan tak jadi terjual.

Tak dinyana sang Wakil Gubernur menanyakan apakah aku punya ongkos pulang.  Aku jawab hanya dengan senyuman. Kulihat ia serta merta mengeluarkan dompet dari balik saku celananya, dikeluarkannya semua uang tunai yang ia punya.  Ia kepalkan padaku, katanya, “Buat ongkos pulang,”

Dan kudapati setelah menghitung jumlah uangnya, maka bisalah kupakai untuk pulang ke Jawa (Pemalang), kampung ibuku.  Padahal saat itu aku hanya akan pulang ke Depok.  Ia pula berpesan padaku datanglah kembali ke Balaikota, temui dirinya atau stafnya bilamana butuhkan sesuatu atau dana usaha.  Ia akan berusaha membantu semampunya.

Saat itulah, pertama kali kukenali hatinya. Betapa manusianya ia sebagai seorang petinggi ibu kota. Betapa wujud kebesaran Allah nampak padanya.  Pada kemuliaan hatinya. Dan sejak saat itu, dia telah menjadi bagian dari keping mozaik hidupku. Seorang yang Allah kirimkan ke dunia untuk menjadi perpanjangan tangan-Nya.

Sedih tiap kali ingat kebaikannya, tiap kali ingat kehangatannya kala berjumpa. Dan kini tak bisa lagi kutemui dia di Balaikota, tempat yang begitu menarik hatiku karena ada kehadirannya. Dia memang kalah angka saat kontestasi pilkada, namun ia selalu menang di hatiku dan hati mereka yang hargai baktinya pada bangsa.

Karena apalah artinya angka,”Angka tidak menjadikan seseorang sebagai manusia.. Tetapi nilai dirimu terukur dari seberapa besar kamu memberi manfaat bagi sesama..” Kami merindukanmu, Pak. Tetaplah menjadi manusia, karena tak semua orang mampu menjadi manusia.

“Menjadi ulama itu mudah, lebih sulit menjadi manusia,” Ayatullah Khoemeini pernah berkata…

Catatan Tri Kartika Sari

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s