Membantah tanpa Memahami

Ada orang berkomentar norak terhadap tulisan saya berjudul “Universal Value vs Private Value“. Intinya dia keberatan saat saya bilang minum bir itu tidak buruk. Biasa, kalau sudah bahas urusan ini, pasti mereka akan membelokkannya ke zina.

“Bagaimana kalau anak perempuan kamu nanti sekolah ke Amerika, dan pulang dalam keadaan hamil. Itu karena dia menganggap zina itu tidak buruk, seperti yang kamu ajarkan.” Kira-kira seperti itu komentarnya.

Nah, bagaimana seandainya begitu. Saya aja. Sujud syukur. Anak saya akan masuk surga. Kok bisa gitu? Kan ini seandainya. Dalam dunia seandainya, tidak ada aturan. Suka-suka kita berkhayal saja. Jadi saya boleh menjawab dengan khayalan saja.

Dalam dunia nyata, anak saya tidak bunting. Jadi, tidak ada masalah.

Tapi, kalau kita ajarkan anak kita untuk menganggap zina itu tidak buruk, apa akibatnya? Apakah ia akan berzina? Nah, ini yang sejak awal tidak kunjun dipahami orang. Sejak awal saya tulis,”Kita tidak minum bir karena kita percaya Tuhan melarang kita.” Tentu itu berlaku sama pula untuk soal zina.

Tapi kenapa dia menulis begitu? Ia mencoba membantah saya. Ketika saya bilang bir itu tidak buruk, dia berusaha membantah. Hanya saja, ia tidak sanggup berargumen. Ia hanya sanggup melakukan provokasi. Dia berharap saya tidak bisa lagi membantah, karena saya marah.

Orang seperti ini terjebak dalam prasangka-prasangkanya sendiri. Ia membayangkan orang di luar sana, yang berbeda agama dengan dia, hidup bebas tanpa aturan. Bunting secara liar. Ia berfantasi bahwa kebuntingaj hanya bisa dicegah dengan agama.

Ia lupa bahwa di sekitar kita banyak gadis bunting sebelum nikah. Sebagian di antaranya diajari agama dengan ketat. Ini kenyataan yang tidak ingin ia lihat, karena menyakitkan.

Ia juga melihat orang minum itu begitu buruk. Fantasinya, orang yang biasa minum minuman beralkohol itu siap melakukan kejahatan apapun. Ya, di kalangan orang Islam beredar dongeng soal pemuda yang ditawari atau dipaksa memilih salah satu dari 2 hal buruk, minum khamar atau membunuh. Ia memilih minum khamar, karena menganggapnya lebih ringan dari membunuh. Tapi akirnya ia memperkosa dan membunuh, karena khamar telah merusak akalnya.

Itu kisah khayal yang dikarang untuk menunjukkan efek buruk minuman keras. Itu tidak nyata.

Tapi bukankah minuman keras  itu memang memicu kejahatan? Ya. Agama juga memicu kejahatan yang lebih mengerikan, seperti perang dan terorisme. Bukankah minuman keras & daging babi itu merusak kesehatan? Ya. Demikian pula dengan daging sapi dan makanan lain jika dimakan berlebihan.

Orang akan sulit menerima bahwa orang-orang di negara-negara peminum khamar justru sehat-sehat saja. Juga hidup tertib, kerja produktif. Jauh dari kesan yang dibangun soal pemabuk yang bikin onar. Mereka juga sulit menerima bahwa orang-orang yang membolehkan hubungan seks tanpa nikah, justru lebih bermoral.

Poin terpenting adalah, saya tidak mengajari anak-anak saya untuk berzina atau minum khamar. Saya hanya meluaskan cara pandang mereka dalam melihat perbedaan. Bagian itu tidak dipahami. Ia membuat pemahamannya sendiri, dan itu salah. Lalu ia marah terhadap pemahamannya yang salah itu. Konyol, kan?

catatan Kang Hasan

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s