Agama & Kebahagiaan

Orang beragama banyak yang sulit memahami orang tak beragama. Mereka mengira beragama itu satu-satunya jalan untuk bahagia. Maka mereka merasa muskil terhadap orang yang tak beragama.

“Bagaimana hidupmu? Kamu gelisah kan? Apa kamu betah hidup dalam suasana kering seperti itu?” tanya seorang kakak kepada adiknya yang memutuskan untuk berhenti beragama.

“Tidak. Aku tidak gelisah. Aku justru bahagia, lebih bahagia dari saat aku masih beragama,” jawab adiknya. Sungguh muskil bagi si kakak.

Agama membuat orang bahagia. Bagaimana mekanismenya? Orang sebenarnya melakukan pengaturan pikiran atau mind setting. Seseorang sedang menginginkan sesuatu. Ia berdoa, minta pada Tuhan. Ia mendapatkan yang ia inginkan. Ia bahagia. Ia dapat yang ia inginkan, dan ia yakin Tuhan mengabulkan doanya.

Bila ia tidak mendapat yang ia inginkan, ia anggap Tuhan sedang mengujinya. Ia tetap yakin bahwa Tuhan akan mengabulkannya kelak. Atau, ia yakinkan dirinya bahwa menurut Tuhan lebih baik kalau ia tidak mendapat apa yang ia inginkan.

Itu namanya mind setting.

Mind setting atas nama Tuhan bisa menyesatkan dan berbahaya. Ada orang yang sering konflik dengan orang lain, karena sifatnya yang buruk. Tapi ia tidak bernalar dengan baik, sehingga tidak menyadari bahwa sikapnya buruk. Dalam kesedihan, ia mengadu pada Tuhan. Ia merasa bahagia saat mengadu. Lalu ia kecanduan mengadu itu, meratap di depan Tuhan. Sementara sikapnya tak pernah membaik.

Bagaimana orang bisa bahagia tanpa Tuhan? Prosesnya sama, melalui pengaturan pikiran. Kalau sesuatu yang buruk terjadi, ia melihatnya dengan nalar. Kalau itu terjadi akibat hal-hal yang sebenarnya bisa kendalikan, maka ia bisa mengubah perilaku, agar hal itu bisa dihindari, dan dikoreksi. Ia mengendalikan akibatnya. Bila tidak, lantas mau apa? Kalau tidak ada yang bisa dilakukan, terima saja.

Salah satu sumber ketidakbahagiaan adalah tidak mau menerima kenyataan. Dengan menerima kenyataan orang bisa bahagia. Atau, kalau ia bisa, ia mengubah kenyataan itu, lalu menjadi bahagia.

Jadi, agama hanyalah salah satu metode pengaturan pikiran untuk bahagia. Kuncinya bukan pada agama, bukan pada Tuhan, tapi pada soal kesanggupan kita mengendalikan pikiran.

catatan Kang Hasan

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s