Sebelum menulis ini saya menyadari bahwa tulisan ini bisa membuat saya ditimpuk emak-emak baper atau para aktivis anti Poligami, tapi ya sudahlah ini tanggung jawab moral saya.

Beberapa hari ini saya menahan untuk tak berkata apapun soal poligami ust. Arifin Ilham dan aksi pamer 3 istrinya di medsos. Menurut saya itu hal yang tak penting untuk dibahas dan dipergunjingkan. Biarlah ia menikah (lagi), what is your problem? Apa anda yang diserahi tanggung jawab menafkahi istri-istri dan anak-anaknya?

You know, kadang saya membenci diri saya sendiri kenapa senang dengan tema-tema miring yang menimpa orang yang sebagian sisi hidupnya tidak saya suka. Tapi saya belajar, Ini urusan privasi seseorang, bahkan sampai istrinya 4 pun apa masalahnya? Mereka menikah bukan berzina. Ranah privasi seseorang bukan urusan kita. Apalagi mengaitkannya dengan selangkangan jelas itu bukan hak kita (meskipun benar).

Kasarnya, andai seseorang menikah hanya karena urusan birahi ya apa urusan kita? Tanpa cinta? Darimana anda tahu mereka tidak saling mencinta? Cinta bukan syarat nikah. Selama ia menjadikan menikah sebagai tanggung jawab lahir batin dan tidak menjadikan istri-istrinya sekedar sebagai koleksi yang dipajang dan baru dicari saat lagi “butuh”, it’s not our business, bahkan juga bukan urusan aktivis gender apalagi aktivis kiri.

Perasaan istri-istri tua? Toh lihat sendiri, mereka tampak mengizinkan dan bahagia-bahagia saja. Bukan urusan kita menjustifikasi urusan yang tersirat.

Kali ini saya terpaksa menuliskan sesuatu yang tidak populer, yang mungkin jika saya ikut membully & meributkan hal konyol seputar ustadz satu ini bisa menggaet ribuan like atau share. Tapi harus saya katakan kita biasa meributkan hal konyol dari orang-orang yang tidak kita suka namun para pelakunya saja enjoy menjalaninya.

Banyak hal lain yang lebih krusial untuk dibahas. Saya hanya menahan agar kelak di akherat pahala saya tidak ditansfer ke dia atau dosa dia ditransfer ke saya karena menggunjing urusan rumah tangga seseorang yang mungkin yang kita tahu tidak lebih dari hanya 1%.

Yang jadi masalah adalah asal nyerocosnya sebagian pandir yang menyebut poligami sebagai sunnah, padahal ayat Qur’an justru menganjurkan “Fain khiftum ‘alla ta’diluu fa wahidah” >> Jika kalian khawatir tidak dapat berlaku adil maka (nikahilah) seorang saja. Ternyata yang lebih diutamakan dalam Qur’an justru menikahi seorang saja.

Lalu bagaimana dengan yang sudah terlanjur beristri tiga?

Ya, jaga mulut kita. Di era milenial ini Tuhan sudah mengutus para Malaikat yang khusus mengawasi media sosial. Biarlah urusan keadilan dia pada istri-istrinya adalah urusan Tuhan, bukan urusan netizen medsos.

Please buat cewe-cewe atau emak-emak, jangan ngamuk dengan tulisan saya ya. Saya hanya mencoba menulis dengan logika, bukan perasaan. Saya juga bukan aktivis pro-Poligami, wong beristri saja belum.

catatan Ahmed Zain Oul Mottaqin

Iklan