Cukup banyak orang yang pernah kuliah di luar negeri menderita sindroma Habibie. Apa itu? Kita semua kenal Habibie. Ia pakar pesawat terbang. Ia menghasilkan banyak penemuan penting dalam ilmu kedirgantaraan. Ia kemudian bekerja untuk Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB), hingga menjadi vice president di perusahaan itu.

Di fase berikutnya dalam sejarah hidup Habibie, Presiden Soeharto mengajaknya pulang. Dia diberi semua fasilitas yang diperlukan untuk mewujudkan ambisi Soeharto, yaitu membangun industri pesawat terbang. Habibie kemudian diberi berbagai jabatan. Ssampai pada tingkat yang tidak masuk akal, bagaimana semua itu bisa dikerjakan Habibie.

Di ujung cerita, dalam puncak karirnya Habibie menjadi wakil presiden. Ia kemudian menjadi presiden ketika Soeharto lengser.

Banyak orang bermimpi jadi Habibie. Pintar seperti Habibie. Kemudian pulang dengan hormat, diberi fasilitas dan jabatan. Tidak hanya satu, tapi banyak. Punya kekuasaan sangat besar.

Masalahnya, kita bukan Habibie. Kenyataannya, kita tidak secerdas dia. Yang bermimpi seperti Habibie itu tidak atau belum menghasilkan hal-hal gemilang. Tapi dalam imajinasi mereka, sudah. Mereka mengarang cerita seolah ia sehebat Habibie.

Lalu, orang-orang pulang dengan lagak Habibie. Berharap disediakan berbagai fasilitas dan jabatan. Kalau perlu, peraturan pemerintah dibuat atau diubah demi dia.

Kalau itu tak terlaksana, orang-orang itu akan marah, menuduh pemerintah tak punya visi, dan tak punya perhatian. Ia lalu membuat gaduh, di media massa dan media sosial.

Ada orang yang mengeluh karena menteri yang mengurusi riset tak memenuhi janji padanya. Janji apa? Konon menteri itu berjanji akan mendanai risetnya. Tapi janji itu tak diwujudkan.

Saya bayangkan, menteri datang, lihat pameran. Wah bagus ini, komentarnya. Nanti kami biayai, janjinya. Itu omongan seremonial. Saya berulang kali menyaksikan seremoni macam ini.

Baca: Dwi Hartanto “The Next Habibie”, akhiri kebohongan besarnya: http://sains.kompas.com/read/2017/10/08/192114423/dwi-hartanto-the-next-habibie-akhiri-kebohongan-besarnya

Bagaimana kalau janji itu dilaksanakan? Tidak bisa. Dana riset itu dana APBN. Mengeluarkannya pakai prosedur. Ada ratusan atau ribuan peneliti mengajukan proposal agar dapat dana riset. Bagaimana mungkin seorang yang ini akan dapat jalur khusus? Itu bisa jadi tindak pidana.

Itu yang sulit dipahami oleh si Habibie-wannabe ini. Karena ia merasa, semua harus tersedia untuknya.

Dalam bentuk lain, sering ada orang mengaku tidak dibolehkan pulang oleh profesornya, atau atasannya. Ia ditawari jabatan mentereng. Bahkan ditawari kewarganegaraan segala.

Saya ingat, di tahun terakhir saya di Jepang, tadinya saya bersiap untuk cari kerja tetap, jadi profesor di sana. Kenyataannya, orang-orang Jepang sendiri setengah mati untuk bisa dapat posisi associate professor. Saya akhirnya realistis, pulang saja, jadi mandor pabrik.

Waktu saya dapat kerja di Indonesia, profesor saya bercanda. “Semoga kamu dipecat, dan balik lagi ke sini,” katanya. Itu eskpresi frustrasi dia. Di satu sisi dia memerlukan keahlian saya untuk riset bersama dia. Tapi di sisi lain, dia tidak bisa mencarikan saya pos kerja tetap. Dia pun harus realistis.

Nah, situasi macam itu sering dibesar-besarkan oleh para Habibie-wannabe itu. Bahkan ada yang lebih parah. Tidak dapat tawaran apa-apa di luar sana, tapi mengaku dapat tawaran.

Pada akhirnya, satu per satu mereka pulang. Sebagian hidup menerima kenyataan. Sebagian lain terus mengidap penyakit, sindroma Habibie. Ngomong besar di media. Mengomel. Mengancam akan pindah ke negara lain, tapi tetap ngendon di sini.

Saya memilih jalan yang sangat realistis. Jadi mandor pabrik. Hidup nikmat dengan menjadi diri sendiri. Saya bukan siapa-siapa. Hanya seorang yang kebetulan pernah kuliah dan kerja di luar negeri.

 catatan Kang Hasan
Iklan