Zona Nyaman yg Tidak Nyaman

Ada orang yang tak puas dengan pekerjaannya. Ia mengeluh setiap hari. Setiap bertemu orang. Atasan jelek, perusahaan jelek, teman kerja jelek. Itu dilakukan selama bertahun-tahun.

Kenapa tak pindah kerja? Ia sudah mencoba cari kerja lain, tapi tak dapat. Mungkin karena keterbatasan kapasitas yang ia miliki. Atau karena tidak menemukan kecocokan (matching).

Ada pula yang terus menerus mengeluh, tapi tidak berupaya untuk pindah kerja. Ia hanya mengeluh saja. Hidup tak nyaman seumur hidup.

Kenapa tak mencoba pindah kerja? Takut. Ya, kalau pun diterima kerja, di tempat baru tak ada yang menjamin keadaannya lebih baik. Bagaimana kalau lebih buruk?

Ini adalah suatu bentuk zona nyaman. Zona nyaman itu tak selalu nyaman. Ada zona nyaman yang aman, setidaknya untuk level tertentu. Seseorang sudah mencapai jabatan tertentu, gaji lumayan. Lalu dia berhenti mencoba tantangan baru. Ia takut kalau mencoba tantangan baru, malah gagal dan ia mendapat tempat lebih buruk dari sekarang. Maka ia memilih diam saja.

Yang tadi ini zona nyaman yang tak nyaman. Orang itu sebenarnya sangat tidak nyaman berada di situ. Tapi ia takut untuk keluar dari situ, karena takut pada hasil yang lebih buruk.

Meski berbeda situasi, zona nyaman itu prinsipnya sama. Orang takut melakukan sesuatu yang baru, karena tidak mau mengubah keadaan. Takut keadaan menjadi lebih buruk.

Apakah seseorang harus pindah kerja kalau sedang berada di tempat yang tak nyaman? Tidak. Pindah bukan satu-satunya pilihan. Ia punya pilihan lain, yaitu mengubah suasana kerja. Ia bisa memperbaiki komunikasi dengan atasan. Bahkan ia bisa melawan.

Melawan? Ya. Bekas atasan saya pernah bilang,”Kalau atasan kita memperlakukan kita tidak baik, kita bisa pakai atasan dia untuk mengoreksi dia.” Saya setuju dengan itu. Saya pernah melakukannya. Saya gunakan kekuatan di atas untuk mengoreksi. Ketika tidak juga ada perbaikan, apa boleh buat, saya bikin dia ditarik pulang ke kantor pusat.

Tapi sebelum buru-buru mengoreksi orang lain, sangat baik kalau kita koreksi dulu diri kita. Telanjangi diri kita. Lihat diri kita dengan sangat jujur. Boleh jadi, masalah yang membelit kita sebenarnya bersumber pada diri kita sendiri. Kita hanya tidak mau mengakuinya saja.

Ingat, menyalahkan orang lain itu adalah suatu bentuk zona nyaman juga. Mengatakan orang lain salah itu nyaman. Karena orang lain salah, saya tidak salah. Nyaman, bukan?

catatan kang Hasan

Iklan

1 Comment

  1. Gue setuju kalo berpetualang tidak harus berarti meninggalkan apa yang sudah dijalankan. Nekad mengambil pekerjaan baru dengan membiarkan diri tanpa penghasilan adalah suatu hal yang bodoh.

    Tapi tetap saja, tidak banyak orang yang cukup memiliki keinginan untuk menjalankan hal yang baru tanpa meninggalkan pekerjaan yang pertama demi mencari pilihan pekerjaan selain dengan apa yang ia jalankan saat ini.

    Semoga kita semua bukan termasuk orang yang seperti itu,

    Suka

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s