“Kalau saya mau pakai metode kathok mlorot, sejak dulu saya sudah punya anak,” kata teman saya. Metode kathok mlorot yang dia maksud adalah menikah lagi dengan perempuan lain, plorotin kathok, nganu, dan menghamili. Dia tidak bermsalah. Secara medis sudah jelas bahwa istrinya mandul. Mandulnya tingkat parah.

Dia orang berada. Jadi sejak dulu sudah menempuh berbagai cara, sampai berobat ke Australia. Hasilnya, nihil.

Tapi dia tidak menyerah. Tidak ambil jalan pintas kathok mlorot. Ia tetap ingin punya anak dari istri yang ia nikahi puluhan tahun yang lalu.

Untuk meredam soal sosial, ia mengambil anak angkat. “Kami mencintainya seperti anak kami sendiri,” katanya. Kalau ada mulut usil yang tanya soal anak, dia perkenalkan anaknya, tanpa menyebut status anak angkat. Masalah selesai dengan sederhana, katanya.

Akhirnya, ia bisa punya anak di usia 60 tahun lebih. Istrinya saat itu sudah 55 tahun. Hamil bertaruh nyawa, karena akibat kehamilan di usia itu adalah tekanan darah tinggi yang sangat membahayakan. Mereka akhirnya mendapat 2 anak perempuan yang sehat, cantik, dan cerdas.

Dengan bangga dia bilang,”Saat anak saya menikah nanti, mungkin saya sudah harus duduk di kursi roda, dan ambulans harus stand by di halaman.”

Tiga pelajaran luar biasa saya dapat dari orang ini. Setia. Berdamai dengan diri sendiri. Tidak menyerah.

Iklan