Maaf, mungkin saya harus mengecewakan Anda. Saya tidak menyaksikan peristiwa gaib. Segala sesuatu yang saya saksikan di tanah suci adalah hal-hal yang wajar belaka, sesuai logika dan hukum alam. Tapi bukankah menurut cerita-cerita, ada banyak kejadian gaib selama di tanah suci? Konon, orang-orang yang berdosa akan ditunjukkan pada dosa-dosanya, dan mendapat balasan di sana.

Selama manasik para ustaz pembimbing berulang kali menekankan pada jamaah untuk tidak takut. Maksudnya, jangan takut pada pembalasan dosa selama di tanah suci. Menurut mereka, tidak ada hal itu. Tidak ada pula dalil yang menerangkan bahwa Mekkah maupun Madinah adalah tempat pembalasan dosa.

Tapi, bagaimana dengan begitu banyak cerita gaib yang selama ini sering kita dengar? Ada beberapa penjelasan logis soal itu.

Pertama, cerita menciptakan cerita. Orang-orang sudah terbiasa mendengar cerita-cerita gaib selama berhaji. Ia kemudian punya keyakinan bahwa ia pun seharusnya mengalami cerita gaib itu. Maka, ia mencari bahan pula untuk cerita gaib miliknya. Ada hal-hal yang sebenarnya biasa saja, yang kalau kita berpikir sedikit jauh saja, akan bisa kita pahami secara logis. Tapi karena kepercayaan pada cerita gaib tadi, orang segera menghubungkannya dengan kegaiban.

Kedua, euphoria, atau kegembiraan berlebihan. Bagi banyak orang, tiba di Mekkah itu adalah kegembiraan luar biasa. Bagi kebanyakan orang, ini adalah mimpi seumur hidup. Ada yang menabung puluhan tahun untuk mewujudkannya. Maka ketika tiba, mereka merasakan gairah yang luar biasa. Efek kondisi ini sama dengan yang diungkapkan di atas, yaitu orang cenderung tidak berpikir panjang dalam memaknai sesuatu. Mereka segera menghubungkannya dengan kegaiban.

Ketiga, ini akan terdengar sedikit berseberangan dengan penjelasan kedua, tapi keduanya hadir secara beriringan. Selain mengalami euphoria, sebagian jamaah haji itu mengalami kejutan, atau shock. Cuaca panas yang ekstrim, bertemu dengan manusia dalam jumlah luar biasa dengan berbagai bentuk fisik dan kebiasaan berbeda dengan kita, datang ke tempat baru yang bahkan bahasanya tak mereka pahami, juga kelelahan dalam aktivitas ibadah, adalah kondisi yang dialami banyak orang. Itu membuat mereka gampang mengalami halusinasi. Atau setidaknya, membuat mereka tak berpikir panjang dalam memaknai suatu kejadian.

Keempat, ketakutan berbasis iman. Banyak orang yang pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Mungkin kesalahan besar. Ia kini berada di tempat suci. Ia merasa Tuhan akan membalasnya di sini. Ketakutan dan kepercayaan bahwa ia akan dibalas menimbulkan halusinasi, atau membuat ia menafsirkan kejadian-kejadian secara gaib.

Ada suatu kejadian kecil yang saya alami, yang kalau saya tidak maksimal berpikir akan saya anggap sebagai kejadian gaib juga. Saya punya adaptor kecil yang menghubungkan SD card dengan iPhone. Adapotr kecil ini sangat penting bagi saya. SD card adalah bagian dari kamera DLSR yang saya pakai untuk memotret. Dengan adaptor tadi foto-foto bisa saya lihat, edit, dan saya unggah ke media sosial, melalui iPhone. Saya sengaja mencari alat ini, dan perlu waktu cukup lama hingga saya bisa mendapatkannya sebelum berangkat.

Hari kedua di Madinah, adaptor ini hilang bersama SD card yang tertancap di itu.. Saya cari di tempat di mana saya biasa meletakkannya, yaitu di meja dan nakas di dekat tempat tidur, tidak saya temukan. Aneh. Padahal tadi malam sebelum tidur saya memakai adaptor ini. Saya cari lagi ke sekitar dua tempat itu, tetap tidak bertemu. Saya tanya istri, dia tidak tahu.

Mungkin jatuh. Saya cari di kolong meja. Tidak ada. Di kolong tempat tidur, tong sampah. Tetap tidak ketemu. Dengan frustrasi saya mulai membongkar koper. Frustrasi, karena secara logika tidak mungkin benda itu ada di koper. Tapi saya tetap membuka kemungkinan siapa tahu tersenggol dan terpelanting masuk koper. Hasil akhirnya tetap nihil.

Setelah beberapa jam mencari dan tetap tidak menemukan, akhirnya saya menyerah. Saya beli SD card baru, dan hasil pemotretan saya pindah ke laptop. Kini saya mengunggah foto ke media sosial dari laptop. Setidaknya kebutuhan saya terpenuhi.

Meski kebutuhan saya terpenuhi, saya tetap merasa gondok dengan kehilangan ini. Rasanya sangat tidak masuk akal. Apakah ini teguran Allah? Saya tidak mau berpikir ke arah itu. Selama seminggu lebih di Madinah saya merasa gondok.

Hari terakhir saat mengemaskan koper untuk berangkat ke Mekkah saya cari lagi adaptor itu. Hasilnya sama, tidak ada. Sepertinya barang itu memang hilang secara gaib. Menjelang keluar dari kamar, saya terdorong untuk mencari lagi. Saya geser lampu tidur di atas nakas. Oh, ini dia! Ternyata selama ini adaptor kecil itu tersembungi di bawah dasar lampu. Saya letakkan adaptor di atas nakas, istri saya menggeser lampu, hingga menutupinya. Atau mungkin saya yang tidak sadar menggeser lampu itu.

Pengalaman saya ini justru mengajarkan pada saya untuk tidak mencari penjelasan gaib tentang suatu kejadian. Carilah penjelasan logis, meski kita sedang berada di tanah suci.

catatan Kang Hasan

Iklan