Muslim Indonesia TIDAK PERLU Alergi dengan Anjing!

sekarang banyak kita temui fenomena di masyarakat, khususnya umat Islam di Indonesia, yang begitu memusuhi anjing (bahkan tidak sedikit yang menyiksanya) seolah binatang ini haram tinggal di bumi milik-Nya.

Saya tidak tahu ajaran dari mana yang merasuki dan membuat teler sebagian kaum Muslim sehingga begitu memusuhi anjing. Kalaupun anjing itu haram untuk dimakan, bukan berarti halal untuk disiksa. Yang najis dari anjing, menurut kitab-kitab “pekih”, kan cuma air liurnya doang. Kalau kebetulan kena air liur anjing, kan tinggal dibasuh saja. Beres kan? Tidak perlu memusuhinya.

Menariknya, Al-Qur’an tidak pernah menyebut anjing sebagai hewan yang haram dimakan. Al-Qur’an hanya menyebut “babi” sebagai hewan yang haram untuk dikonsumsi (ingat: haram dikonsumsi saja!). Ajaran ini juga sama dengan “ajaran Yahudi”: sama-sama mengharamkan makan daging babi.

Menariknya, Islam dan Al-Qur’an (misalnya Surat Al-Kahfi), bahkan sangat menghargai anjing. Ingat cerita “anjing kitmir” yang menemani tujuh orang yang tidur di gua (disebut “ashabul kahfi”) selama 300 tahun karena menghindari “persekusi agama” penguasa tiran?

Konon, anjing ini, karena setia menemani dan menjaga mereka, juga dijanjikan masuk surga sebagaimana “ashabul kahfi.” Kiaiku dulu bilang: “anjing [maksudnya “kitmir”] yang setia mengikuti ulama saja bisa masuk surga, apalagi manusia?”

Jika Islam dan Al-Qur’an menghargai anjing, kenapa sejumlah umat Islam di Indonesia dewasa ini begitu beringas dengan binatang cerdas ini? Saya katakan sebagaian karena memang tidak semuanya. Coba Anda jalan-jalan ke Turki. Anda akan menyaksikan anjing berkeliaran dimana-mana: di kantor, rumah, dan bahkan masjid.

Ya, di Turki, anjing bukan hanya digunakan jasanya untuk menjaga rumah dan gedung-gedung perkantoran tapi juga masjid supaya aman dari tindakan orang-orang gemblung dan teroris. Kaum Muslim Turki memang dikenal sangat ramah dengan anjing. Banyak dari mereka yang memelihara berbagai jenis anjing. Sebagai pengikut mazhab Hanafi, umat Islam di Turki sangat fleksibel dan mengedepankan “rasio” dalam beragama.

Bukan hanya di Turki saja. Masyarakat Muslim di kawasan Arab juga sangat ramah dengan anjing. Apalagi mereka mempunyai jenis anjing kesayangan, namanya “Saluki” yang juga disebut “Arabian dog” atau “Persian Greyhound”. Anjing ini bercirikan tinggi kurus dengan kaki yang sangat panjang sehingga kuat berlari di padang pasir. Selain itu, mereka mempunyai “mata elang” yang tajam.

Oleh karena itu, dulu dan sampai sekarang, oleh masyarakat Arab (baik “Arab Bedouin” maupun “Arab kota”), Saluki sering digunakan untuk berburu selain menjaga pertanian, hewan piaraan, dan tenda-tenda suku Arab Bedouin. Bukan hanya itu, Saluki juga sering dipakai untuk “karapan (lomba) anjing”.

Popularitas Saluki sebagai “hunting dog” sudah populer sejak lama. Para raja Bahrain sejak Shaikh Hamad bin Isa Al-Khalifa di era 1930an dan putranya Shaikh Salman bin Hamad Al-Khalifa dikenal sebagai penyayang Saluki dan selalu membawa rombongan Saluki, khususnya kalau hendak berburu.

Karena masyhur, Saluki juga seing disebut dalam berbagai teks-teks dan karya kebudayaan agung umat Islam klasik (buku, puisi, literatur, lukisan, dlsb). Simak karya-karya agung Khaghani, Kamaluddin Behzad, Jamaluddin Abu Ishaq, dlsb.

Bukankah Islam adalah “agama rahmat buat seluruh makhluk di alam semesta”? Makhluk di alam semesta tentu saja bukan hanya manusia tetapi juga flora dan fauna. Jika kalian mengklaim atau mengaku mencintai Tuhan, tetapi membenci ciptaan-Nya, apakah kalian benar-benar tulus mencintai-Nya?

catatan Sumanto Al Qurtuby

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s