Tertipu Umroh Murah adalah Buah dari Beragama Tanpa Akal Sehat!

Salah satu yang membuat pasutri gemblung pemilik agen umroh First Travel yang sukses mengelabui dan menipu berpuluh-puluh ribu umat Islam (konon sampai 72 ribu, bukan 35 ribu seperti yang selama ini diberitakan) adalah karena watak dan karakter orang Indonesia yang menggemari barang-barang murah.

Tidak bisa dipungkiri, sebagian besar masyarakat Indonesia itu maunya memiliki “barang bagus” tapi dengan harga murah. Ini sudah populer┬ádi berbagai manca negara.

Coba saja jalan-jalan ke pasar tradisional di Turki. Begitu melihat “muka Melayu” kita, para penjual pasti ramai menawarkan barang dagangannya: “Mari-mari, murah-murah he he…”. Atau, silakan keliling di toko-toko atau pasar di Madinah, para penjual juga akan berteriak: “murah-murah…”.

Itulah sebabnya kenapa produk-produk Cina itu laku-keras di Indonesia. Murah!

Maka, kalau Anda ingin sukses berbisnis–berbisnis apa saja, termasuk bisnis umroh–dan menjangkau segmen pasar masyarakat luas, maka jangan mahal-mahal kalau mau jualan produk dagangan.

Sebagaimana bisnis pada umumnya, umroh juga sebuah “barang dagangan” yang sangat menggiurkan apalagi suasana dan semangat keislaman di Indonesia kini yang sedang “naik daun”. Maka, umroh adalah bisnis yang sangat empuk. Dan, lebih empuk lagi kalau ditawarkan dengan harga murah!

Sangat susah dinalar ada umroh dengan biaya 14 jutaan! Harga tiket pesawat berapa (emang mau naik kapal laut seperti di zaman baheula?), harga hotel berapa, konsumsi berapa, dlsb. Sangat tidak masuk akal.

Tapi apa lacur, begitu melihat penawaran umroh dengan harga murah, tanpa pikir panjang, mata umat Islam langsung berubah jadi “ijo” dan berduyun-duyun mendaftar. Umroh murah, umroh murah! Mak, nyong, mboke, bapake ayoooo daftar. Kalau bukan sekarang, kapan lagi bisa umroh dan melihat Tanah Suci dengan harga murah segini bok. Terima kasih ya Allah. Akhirnya doaku ingin melihat Mekah terkabul.

Doa tinggal doa. Keinginan tinggal keinginan. Duit umroh umat Islam ternyata dikemplang dan dibuat foya-foya oleh “pasutri jahanam” itu.

Pelajaran yang bisa kita petik dari kasus ini: beragama tanpa berakal sehat akan gampang dikibuli oleh para pedagang, tengkulak, dan petualang agama!

catatan Sumanto Al Qurtuby

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s