Apakah kalian pikir 35.000 umat dan jamaah yg kalian tipu itu dan kami yg masih dapat melihat dan berfikir jernih sedemikian bodoh ?

Nilep uang jamaah sebanyak Rp 550 milyar gak jelas dipakai apa, dinikmati sendirian. Giliran ditanya jamaah duit mereka dikemanakan, sekarang nyalah²in Pemerintah kenapa izin kegiatan usaha mereka (yg terlihat nyata mulai ada elemen penggelapan dan penipuannya itu) ditutup lalu minta pemerintah membayar kewajiban² mereka pada Jamaah. Kok enak ????

Pakai lawyer politik untuk belok²in kasus pidana dan perdata biasa ya gini deh.. Buat makin curiga aja (jangan² dipakai kegiatan politik yg gaduh dan syarat bermuatan SARA itu?). Ada apa dibalik dana Rp 550 milyar yg lenyap itu..?

Sementara ada banyaaak jamaah yg sdh membayar lunas biaya umrah mereka bahkan membayar biaya tambahan sejak setahun lalu tak juga kunjung diberangkatkan (sebelum izin usaha mereka dibekukan Pemerintah). Tindakan pemerintah membekukan usaha FT (First Travel) sdh benar demi melindungi terus berlanjutnya proses penipuan dan pola gali lobang tutup lobang yg dilakukan FT. Jawab aja dengan jelas dan transparan dimana atau dipakai apa aja duit sebanyaaaaaak Rp 550 milyar yg seharusnya dipergunakan untuk memberangkatkan jamaah itu ? Itu jumlah yg sangat besaaaaaaarrr jumlahnya. Tidak mudah lho ngilangin dan menghabiskan uang sebesar itu. Tidak akan habis hanya untuk membeli rumah dan mobil² mewah yg telah disita Polisi serta gaya hidup jalan² keren ke luar negeri.

Cukuplah dan berhentilah membuat argumen² yg tidak dapat diterima nalar apa lagi menyalah-nyalahkan Pemerintah yg berkewajiban melindungi rakyat dan umat dari upaya² penggelapan uang dan penipuan yg mulai nyata ini. Dicabut atau tidaknya izin FT tak ada hubungannya dengan Rp 550 milyar dana jamaah yg harusnya tersedia untuk memberangkatkan mereka atau mengembalikan dana mereka.

Ini bukan permainan politik. Cukuplah dan hentikan upaya untuk terus membodohi dan membohongi umat. Tidakkah umat Islam yg 7 juta yg merasa alumni 212 merasa terhina dengan penistaan agama yg nyata seperti ini ? Mengapa tak ada demo ? Atau setidaknya mengapa tak ada suaranya yg vokal seperti saat membela HT yg tersangkut perkara pidana ? Bukankah ada setidaknya 35.000 umat islam yg dizolimi dan patut dibela dari tindak pidana penggelapan dan penipuan yg dilakukan FT ?

Apakah demikian banyak umat dan jamaah dizolimi itu tak pantas bagi kalian untuk melakukan aksi berjilid-jilid spt dulu (yg katanya bukan karena bayaran) itu ? Itu Ormas yg katanya suka membela Islam juga kemana ? Kok adem ayem aja ? Kok gak membakar emosi umat dan mengajak umat dari segala penjuru negeri datang ke Jakarta sambil membuat sirat wasiat seperti dulu itu ? Bukankah kayanya kalian ormas yg peduli dengan umat islam (dan bahkan bukan islam) yang dizolimi ? Apakah angka 35.000 orang umat itu nasih kurang banyak ? Bukankah ini adalah penistaan agama Islam yg sangat² nyata ? Apa karena Pemilik FT itu bagian dari kalian di demo dan alumni 212 itu lantas kalian diam ?

Ayoo Polri dan PPATK segera tuntaskan dan transparansikan kemana saja uang sebesar itu Rp. 550 milyar tsb dipergunakan agar upaya membohongi umat menggunakan kemasan agama seperti ini tidak terus terjadi.

Entah kenapa dibalik satu kasus demi kasus lainnya, terkuak begitu banyak “kedok” dibalik kemunafikan yg nyata dari orang² yg selama ini berlagak sebagai orang² yg paling baik, benar dan suci. Ketika kita bertakbir dan berteriak-teriak menyebut namaNYA Yang Maha Besar, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Mengetahui, tidakkah berfikir demikian mudah bagiNYA untuk semua topeng suci yg kita kenakan dihadapan sesama manusia dan menunjukkan siapa aslinya kita ? Itu pun tentunya bagi orang yg sudah sadar dari mabuk (agama) hanya karena ajakan atau terjebak dalam kebencian yg disebar oleh politisi² berkedok agama.

Semoga umat dan bangsa ini cepat mau belajar membuka nata dan hati serta pikiran mereka yg jernih agar dapat menjadi umat dan bangsa yg cerdas sehingga tak mufak ditipu atau dibohongi pakai sesuatu kemasan agama (padahal hanya untuk kepentingan satu atau beberapa orang atau kelompok semata yg sering kali tak ada kaitannya dgn agama sama sekali).

Salam Indonesia Raya

catatan Agustus Sani Nugroho di Facebook

Iklan