Ayo, tunjukan mana Pemdamu? Ini Pemdaku. Jika pemerintah daerahmu masih sibuk ngurusin dunia, urusi jalan dan gaji tukang sapu, itu namanya Pemda yang ngaco. Emang sebagai tukang sapu orang itu mau hidup selamanya? Gak kan?

Suatu saat manusia pasti mati. Dan ingat, di akhirat nanti, pahala jauh lebih penting ketimbang paha ayam.

Depok bukannya Jakarta di jaman Ahok. Jakarta sangat materialistis. Masa tukang bersihin got digaji setara UMR? Itu namanya ngajarin rakyat boros. Lagi pula dengan menggaji besar para tukang sapu, pasukan oranye dan sebagainya itu, malah menghina keikhlasan kerja mereka.

Ingat, mereka jadi tukang sapu selain profesi juga ingin mengabdi. Pengabdian itu intinya ikhlas. Kalau digaji besar-besar, keikhlasannya akan hilang. Kalau mereka terlalu makmur, nanti ladang pahalanya malah berkurang.

Pemda harus mengajarkan pada para tukang sapu itu tentang makna ikhlas. Ikhlas menerima gaji secuil. Ikhlas gak naik gaji. Ikhlas membersihkan jalan. Ikhlas tidak dianggap penting. Semua keikhlasan itu akan menambah pahala bagi mereka.

Jadi ikutilah prinsip Depok, kota seribu PKS ini. Prinsip yang sangat syar’i. “Kugaji kau dengan pahala…” Ah, bangganya aku jadi warga Depok. Kota yang bertetangga dengan surga…

catatan Eko Kuntadhi

Iklan