Setiap kali ketegangan dan kekerasan antara otoritas Israel dan Palestina meletus selalu saja (sebagian) kelompok slam di Indonesia hiruk-pikuk menggelar demonstrasi heroik mengecam dan menyumpahserapahi Yahudi, dan pada saat yang sama hiruk-pikuk membela warga Palestina yang mereka asumsikan sebagai umat Islam yang menjadi korban keganasan Israel.

Aksi protes yang berisi kecaman atas Israel dan sekaligus dukungan atas Palestina itu karena dibangun atas dugaan dan asumsi yang keliru, yaitu kekerasan Israel-Palestina itu = kekerasan Yahudi-Muslim. Dengan kata lain, para protesters, khususnya golongan Mamat-Mimin, meyakini kekerasan itu karena masalah keagamaan (misalnya umat Yahudi itu pembenci Muslim) bukan masalah geo-politik dan klaim hak ulayat dan kesejarahan.

Sementara itu, para komandan demo (yaitu golongan Momot dan Momon) bisa saja sudah mengerti problem Israel-Palestina yang sesungguhnya tetapi karena dorongan kepentingan dan nafsu politik-ekonomi-ideologi tertentu yang sudah di ubun-ubun sehingga gelap mata dan pura-pura rabun dan pikun, menggembar-gemborkan konflik Israel-Palestina itu sebagai kekerasan agama: Yahudi musuh Islam sambil mengutip sejumlah ayat Al-Qur’an dan Hadis tentang Yahudi yang sesungguhnya sudah tidak relevan lagi untuk dijadikan sebagai basis legitimasi dan dasar argumentasi untuk menilai konflik Israel-Palestina di era kontemporer.

Menariknya, sejumlah kelompok Islam ini hanya bersemangat kalau terjadi konflik dan kekerasan yang diandaikan dilakukan oleh kelompok non-Muslim terhadap umat Islam (seperti kasus Israel-Palestina ini) sementara tutup mata, pura-pura pikun, dan mendadak katarak kalau kekerasan atas umat Islam itu dilakukan oleh rezim & kelompok radikal Islam seperti yang terjadi di Irak, Afganistan, Yaman, Mesir, Aljazair, Tunisia, Sudan, Libya, Suriah, Libanon, Pakistan, Bahrain, dan masih banyak lagi. Itu artinya bahwa mereka ini sebetulnya bukan bersimpati kepada umat Islam tetapi karena membenci kaum non-Muslim.

Seperti saya tulis sebelumnya, konflik Israel-Palestina itu bukan konflik Yahudi-Muslim. Tentara yang tergabung di Israel Defense Forces itu, yang disebut dengan Tzahal dalam Bahasa Ibrani, bukan hanya beretnik Yahudi tetapi juga Arab (baik Muslim maupun Kristen, Baduin maupun bukan), Druze, Circassia, dlsb. Yang Yahudi pun beragam, bukan hanya Yahudi Israel saja tetapi juga Yahudi Ethiopia, Yahudi Arab, dlsb. Baik Arab maupun Druze menduduki posisi signifikan dalam struktur ketentaraan dan kepolisian Israel. Beberapa perwira Arab Israel yang cukup masyhur antara lain Abdul Majid Hidr (dikenal dengan sebutan Amos Yarkoni dari keluarga Muslim Arab Badui), Wahid al-Huzil, Hisyam Abu Varia, Ala Wahib, dlsb.

Jika di Israel ada “Arab Israel“, maka di Palestina juga ada “Yahudi Palestina.” Sebagai sebuah teritori politik, Palestina, sebagaimana kawasan lain, bukan hanya diisi oleh kaum Arab Muslim saja tetapi juga Kristen, Yahudi, Druze, dlsb. Sekitar 10% penduduk Palestina adalah Kristen. Dan perlu dicatat: meskipun Sunni menjadi mayoritas umat Islam Palestina, ada warga Syiah dan Ahmadiyah yang menjadi minoritas signifikan di kawasan ini.

Yang menarik adalah umat Yahudi. Tidak seperti yang diasumsikan oleh banyak pihak, banyak umat Yahudi, baik di Palestina, Israel, maupun di Luar Negeri, yang menentang gerakan ideologi-politik Zionisme dan kontra terhadap aksi-aksi kekerasan faksi radikal-ektremis Israel atas Palestina.

Salah satu kelompok Yahudi yang getol menentang Zionisme dan pendirian Negara Isarel adalah Neturei Karta, sebuah kelompok Yahudi Heredi yang mengklaim sebagai “Yahudi Garis Lurus”. Pentolan kelompok ini, antara lain, Moshe Ber Beck dan Yisroel Dovid Weiss. Kelompok ini berargumen bahwa pendirian Negara Israel itu haram sampai datangnya Juru Selamat (Mesiah) Yahudi.

Jadi, silakan boleh-boleh saja demo simpatik membela Palestina. Itu hak masing-masing individu. Tetapi tidak usah lebay-njeblay mengecam-ngecam Yahudi sedunia, dan mengeksploitasi masalah geo-politik ini menjadi isu-isu murahan agama. Mari minum Equil dulu biar cepet waras he he

catatan Sumanto Al Qurtuby

Iklan