Tragedi Universitas Surya

Universitas Surya yang didirikan oleh Yohanes Surya terancam bubar. Dosen-dosennya banyak yang keluar, demikian pula mahasiswanya. Kabar buruknya, lembaga ini berutang 16 milyar dari Bank Mandiri. Hutang diperoleh dengan mengatasnamakan mahasiswa, dengan skema student loan. Banyak orang tua mahasiswa yang tak tahu bahwa nama anak mereka dipakai untuk berhutang.

Akankah ini jadi akhir sepak terjang Yohanes Surya?

Kita mengenal Yohanes Surya sebagai tokoh Olimpiade Fisika. Ia mempopulerkan kegiatan itu di Indonesia. Ia memolesnya menjadi luar biasa.

Kegiatan ini sebenarnya kegiatan biasa saja, kompetisi antar pelajar. Tapi Yohanes Surya berhasil menyulapnya jadi gemerlap. Waktu diselenggarakan di Indonesia tahun 2002 acaranya di hotel mewah, dan dihadiri oleh pejabat tinggi negara.

Waktu itu Surya mengabarkan kemenangan anak-anak asuhnya dengan gegap gempita. “Kemenangan siswa-siswa kita sudah menggetarkan Eropa,” tulisnya di mailing list Himpunan Fisika Indonesia. Banyak yang berdecak kagum. Tapi banyak pula yang senyum-senyum geli.

Hebatkah? Ada sisi-sisi hebatnya. Dari situ berhasil digaet sejumlah anak cerdas, yang kemudian disalurkan untuk mendapat beasiswa ke luar negeri. Mereka kini banyak yang berkarir sebagai ilmuwan di luar negeri.

Tapi ingat, sisi tak hebatnya juga ada. Banyak siswa yang dijanjikan beasiswa, akhirnya tak mendapatkannya. Bahkan ada yang sudah berangkat ke luar negeri, kemudian terlantar.

Kehebatan Yohanes Surya adalah pada kemampuan dia mengemas sesuatu menjadi tampak hebat. Itulah sepertinya yang terjadi di Universitas Surya. Ia merekrut sejumlah orang hebat jadi dosen. Sebagian ada yang hebat bungkusnya saja. Ia gaji dengan nilai yang menggiurkan.

Yohanes Surya berharap dengan bungkus yang ia buat, akan datang investor menanamkan uang di situ. Akan banyak perusahaan yang memesan produk risetnya. Lalu universitas akan hidup gemilang.

Tapi sepertinya kalkulasinya tidak akurat. Penggelembungannya terlalu besar. Lalu meletus.

Apakah ini akhirnya? Entahlah. Mungkin ia hanya terjerembab sesaat, dan kelak bangkit lagi. Atau, bisa jadi ini akhir segalanya.

catatan Kang Hasan

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s