Sains & Tuhan: Kisah Indrawan Sastronagoro

Sains dan Tuhan: Indrawan Sastronagoro adalah seorang dosen di Sekolah Tinggi Energi dan Mineral. Ini adalah sekolah negeri yang berada di bawah Kementerian ESDM. Dia tidak akan menarik perhatian jika bukan karena gugatannya ke Mahkamah Konstitusi. Pendidik yang mengaku sudah berumur 80 tahun ini menggugat UU Energi dan Mineral.

Indrawan Sastronagoro

Bukankah UU ini pantas digugat karena terlalu memihak kepentingan modal besar? Sayangnya, Indrawan Sastronagoro tidak tertarik pada efek sosio-politis dan ekonomi dari UU ini.

Dia menggugat beberapa pasal dari UU ini. Misalnya, pasal 1 angka 4. Pasal ini mengatakan” “Sumber energi baru adalah sumber energi yang dapat dihasilkan oleh teknologi baru baik yang berasal dari sumber energi terbarukan maupun sumber energi tak terbarukan, antara lain nuklir, hidrogen, gas metana batubara (coal bed methane), batu bara tercairkan (liquified coal) dan batu bara tergaskan (gasified coal).”

Indrawan Sastronagoro berargumen bahwa , pasal dari UU ini menyekutukan Tuhan alias syirik. “[Y]ang menggunakan teknologi baru adalah manusia, bukan hewan, berarti manusia dengan teknologi baru bisa menghasilkan sumber energi baru, jadi sama pintar, menyamai Tuhan Yang Maha Esa. Inilah yang disebut syirik. Karena, dalam agama Islam, tidak ada yang menyamai Tuhan Yang Maha Esa.”

Dia juga menggugat angka 5 dari pasal yang sama. Bagian itu menyebutkan bahwa energi baru berasal dari sumber energi baru. Indrawan Sastronagoro berpendapat, “Lho, kalau begitu, Tuhan Yang Maha Esa itu dianggap punya sifat lupa. Sehingga satu saat ingat, diciptakanlah energi baru … sumber energi baru.”

Selesai? Belum!

Menurutnya yang paling gawat adalah Pasal 6. Menurutnya, bahkan orang Islam yang tidak bersekolah sekalipun pasti mengerti akan kerusakan yang ditimbulkan oleh pasal ini. Dia berargumen, “Di situ disebutkan bahwa sumber energi baru bisa berkelanjutan jika … sekali lagi, jika dikelola dengan baik. Mengapa di situ dimasukkan juga sinar matahari dan angin? Ini kan tidak mungkin. Angin, sinar matahari, sudah diciptakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sejak terbentuknya dunia ini. Kenapa disebutkan seperti itu? Nah, ini berarti kan di mana ditempatkan Gusti Allah? Pikir saya begitu. Ini kan berarti meminggirkan, mendeskreditkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”

Dia menganggap UU ini menghina agama Islam. Dan dia pun menganggap gugatannya sebagai bagian dari ‘jihad konstitusi.’

Apakah UU ini menimbulkan kerugian pada dirinya sebagai warga negara?

Indrawan Sastronagoro mengatakan bahwa produksi usaha kerjanya menurun akibat UU ini. Ia mengatatan, “… [C]ontoh saya sebulan normal bisa mengajar 34 SKS dengan adanya pikiran yang … ya, katakan ‘terganggu’ ini hanya bisa 20 SKS sebulan. Jadi, jelas penghasilan saya sebagai warga negara turun. Nah, kalau kerugian immateriil nah ini juga jelas, saya sebagai orang yang beragama Islam, ya, istilahnya iman, keyakinan merasa dirugikan karena “Gusti Allah-ku, kok, diberlakukan seperti ini.”

Gugatannya ditolak oleh Mahkamah Konstitusi.

Yang menarik perhatian saya adalah cara berpikir Indrawan Sastronagoro. Cara berpikir seperti ini semakin berkembang di masyarakat kita. Masih ingat sebagian orang yang kukuh menganggap bumi itu datar sekalipun bukti-bukti ilmiah mengatakan bulat. Manusia sudah puluhan tahun tamasya keluar angkasa dan yang terlihat bumi bulat belaka. Namun, apakah mereka percaya?

Yang lebih menarik adalah Indrawan Sastronagoro adalah seorang insinyur teknik. Dia mengaku ahli dalam perlistrikan. Saya tidak tahu bagaimana dia bisa menerima setrum dengan lapang dada sekalipun tahu bahwa setrum dihasilkan oleh pembangkit listrik. Juga dimana campurtangan Tuhan dalam membangkitkan listrik ini.

Kita melihat bahwa jumlah orang-orang seperti Indrawan Sastronagoro ini semakin banyak. Tidak peduli bahwa orang-orang ini belajar sains. Bukankah perguruan tinggi teknik dan sains di negeri ini adalah pusat pembiakan segala macam cara pikir yang justru anti sains?

Tampaknya, cara berpikir seperti ini juga tidak memandang usia. Indrawan Sastronagoro berusia 80 tahun. Sementara banyak kaum sejenisnya yang berusia jauh lebih muda.

Terus terang, semakin banyaknya kaum terdidik yang tidak yakin pada apa yang dipelajarinya membikin saya gagap. Apa yang salah dalam masyarakat kita?

Yang sesungguhnya menjadi masalah adalah bagaimana kita memperlakukan Tuhan. Kita menjadikan Tuhan sebagai kemandegan, terutama kemandegan kita berpikir. Sesungguhnya kita tidak sedang mencari Tuhan dalam ciptaanNya. Melainkan kita menuhankan kemandegan itu dalam pikiran kita.

catatan Made Supriatma

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s