Seperti ada mobilisasi untuk membenci Pak Quraish. Namun, rupanya gagal. Hukum alam bekerja. Makin gencar kampanye untuk membenci, makin banyak juga yang mengagumi.

Bagi seseorang yang dalam hatinya ada benci, iri, dan dengki, maka yang dilakukan Pa Quraish tak berarti. Semuanya salah. Sebaliknya, bagi orang yang mengagumi dengan sepenuh jiwa raga, maka Pak Quraish tak pernah salah.

Dua-duanya tidak sehat. Pa Quraish tak mungkin mutlak salah, sebagaimana juga tak mungkin mutlak benar. Sikap yang sehat, kita memperlakukan beliau secara proporsional saja. Tak usah membenci tanpa batas dan tak perlu juga mengagumi seperti kekaguman kita pada Nabi SAW.

Kita menghargai jasa Prof. Quraish dalam pengembangan studi al-Qur’an di Indonesia. Sekian puluh buku terkait al-Qur’an sudah dituliskan. Bahkan, beliau menulis secara khusus buku tafsir al-Qur’an (Tafsir al-Misbah); sebuah karya kesarjanaan yang ditulis dengan dedikasi tinggi dan penuh ketekunan.

Sekiranya ada satu dua hal yang membedakan kita dengan beliau, maka itu biasa. Tak mungkin kita sepakat dalam semua hal dengan beliau, sebagaimana kita tak mungkin berbeda pendapat dengan beliau dalam semua hal.

Maka, bersikaplah secara proporsional!

catatan Abdul Moqsith Ghazali

Iklan