Menyikapi Prof. Quraish Shihab

Seperti ada mobilisasi untuk membenci Pak Quraish. Namun, rupanya gagal. Hukum alam bekerja. Makin gencar kampanye untuk membenci, makin banyak juga yang mengagumi.

Bagi seseorang yang dalam hatinya ada benci, iri, dan dengki, maka yang dilakukan Pa Quraish tak berarti. Semuanya salah. Sebaliknya, bagi orang yang mengagumi dengan sepenuh jiwa raga, maka Pak Quraish tak pernah salah.

Dua-duanya tidak sehat. Pa Quraish tak mungkin mutlak salah, sebagaimana juga tak mungkin mutlak benar. Sikap yang sehat, kita memperlakukan beliau secara proporsional saja. Tak usah membenci tanpa batas dan tak perlu juga mengagumi seperti kekaguman kita pada Nabi SAW.

Kita menghargai jasa Prof. Quraish dalam pengembangan studi al-Qur’an di Indonesia. Sekian puluh buku terkait al-Qur’an sudah dituliskan. Bahkan, beliau menulis secara khusus buku tafsir al-Qur’an (Tafsir al-Misbah); sebuah karya kesarjanaan yang ditulis dengan dedikasi tinggi dan penuh ketekunan.

Sekiranya ada satu dua hal yang membedakan kita dengan beliau, maka itu biasa. Tak mungkin kita sepakat dalam semua hal dengan beliau, sebagaimana kita tak mungkin berbeda pendapat dengan beliau dalam semua hal.

Maka, bersikaplah secara proporsional!

catatan Abdul Moqsith Ghazali

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s