Ada yg Sengaja Merawat & Memelihara Kebencian di Indonesia!

Di dunia yang penuh dengan kesontoloyoan dan keamburadulan ini, ada manusia-manusia tengil bin gemblung yang pekerjaan utamanya adalah merawat kebencian.

Bagi sebagian manusia sontoloyo ini (baik itu yang berprofesi sebagai politisi, tokoh agama, pebisnis, birokrat, pimpinan ormas, dlsb), memelihara kebencian antarindividu, antaragama, antaretnik, antarkelompok sosial, antarormas, antarpartai, antarsuku, atau bahkan antarbangsa dan negara adalah sebuah “modal sosial” dan “aset kultural” yang luar biasa menguntungkan secara politik dan ekonomi.

Bagi mereka, semakin masyarakat saling membenci dan memusuhi, maka semakin menguntungkan. Sebaliknya, semakin masyarakat saling mencintai dan menghormati, maka akan sangat merugikan dari sisi politik-kekuasaan dan ekonomi-perbisnisan.

Oleh karena itu, mereka selalu berusaha serapi dan selicik mungkin untuk terus-menerus memupuk dan mengawetkan kebencian dan permusuhan di masyarakat.

Dalam praktiknya, mereka sering kali ambigu alias mencla-mencle: “ke dalam” kelompok sendiri, mereka menginginkan adanya kesolidan pertemanan dan sebisa mungkin saling mencitai dan menghindari perpecahan dan permusuhan sesama anggota kelompok (in group). Sementara itu, “ke luar” (kepada “out group”), mereka justru mengupayakan semaksimal mungkin perseteruan dan intoleransi antarindividu dan masyarakat.

Kebencian berkaitan erat dengan kebodohan. Maka operasi merawat kebencian akan semakin berjalan lancar dan mulus jika dilakukan dengan memelihara kebodohan. Maka, para perawat kebencian ini juga pemelihara kebodohan. Mereka senang luar biasa kalau masyarakat itu bodoh alias “bodo ela-elo” karena dengan begitu bisa dengan mudah digiring dan diprovokasi sesuai dengan kemauan dan selera mereka.

Semakin bodoh dan tumpul masyarakat, maka mereka akan semakin senang karena dengan demikian proyek kebencian akan semakin lancar. Sebaliknya, jika masyarakat semakin cerdas dan kritis, maka mereka akan rugi karena akan kehilangan pengikut setia dan simpatisan yang loyal yang merupakan “aset” yang bisa menggendutkan “perut-perut buncit” mereka.

Sayangnya, banyak warga masyarakat kecil yang tidak menyadari semua ini, dan bahkan bangga dan senang sekali hidup dalam alam kebodohan, kebencian, dan permusuhan hanya karena diiming-imingi ini-itu, baik yang bersifat “imaterial” seperti surga & pahala atau yang bersifat “material” seperti duit recehan atau nasi bungkusan. Malang nian nasibmu kawan? Padahal hidup dalam alam perdamaian, toleransi, dan persahabatan jauh lebih mulia dan menentramkan jiwa-raga.

catatan Sumanto Al Qurtuby

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s