Sudah menjadi tradisi dalam bermasyarakat kita yg dikutip dari perintah sebuah agama mayoritas , Agar kita menjadi manusia manusia munafik untuk menutupi “keburukan” maupun “kesalahan” diri sendiri, orang dekat maupun komunitas kita.

Kedisiplinan sangat jauh dari karakter masyarakat kita, tidak percaya diri dan merendahkan diri sebagai “korban” atau terzolimi. Hal ini sangat biasa dengan kata lain MENUTUPI AIB SAUDARA SEIMAN, mencari kambing hitam dan berperan sebagai korban/terzolimi.

Oleh karena itu korupsi, tindakan kekerasan masal atas nama agama tidak bisa diberantas, karena masyarakat saling membela , menutup aib antara satu dan lainnya.

Seperti halnya terorisme yg notabene dilakukan oleh orang orang beragama Islam. Pemerintah maupun masyarakat seagama selalu menolak ttg FAKTA yg jelas seperti unta di depan mata. Mereka mencari kambing hitam korban dg mengatakan pelaku TIDAK BERAGAMA.

Apakah pemerintah ataupun masyarakat tidak sadar, jika komunitas masyarakat agnostic, atheis , pantheis yg tidak memeluk agama itu banyak sekali. Mereka manusia baik baik yg tidak pernah melakukan keributan maupun huru hara. Mereka cenderung dg ego hidupnya sendiri dan menjadi sangat nasionalis. Agama agama yg tercantum di KTP hanya sebagai Hiasan dan sikap mematuhi aturan pemerintah saja.

Apakah pemerintah tidak merasa bersalah menyinggung mereka dg selalu menjadikan tertuduh? Mereka juga manusia yg memiliki hak dan kewajiban sebagai warga negara indonesia. Bukan dijadikan kambing hitam dari perbuatan masyarakat beragama mayoritas.

Mbokya ngak usah menolak atau mengelak.

SEMUA TERORIS DI INDPNESIA ADALAH ORANG BERAGAMA ISLAM, PUNYA KITAB ALQURAN, BERPEDOMAN PADA HADIST, BERKIBLAT DI ARAB, DAN MEMELIHARA JENGGOT SEBAGAI KETAATAN MENJALANKAN SUNAH NABI MUHAMAD. SEMUA SUDAH TAHU, PELAKU TERORISME DI INDONESIA BERAGAMA ISLAM

Saya JUJUR sebagai agnostic yg tdk beragama tetapi selalu dikaitkan dg teroris. Biasakan berkata JUJUR, biar negara maju!

catatan Dede Sumi

Iklan